-->

23/05/2026

Gotong Royong TNI dan Warga, Begesting Pondasi Jembatan Garuda di Pasrujambe Dibongkar


Lumajang, (Onenewsjatim)
– Semangat gotong royong kembali ditunjukkan personel Koramil 0821-17/Pasrujambe bersama masyarakat dalam kegiatan pelepasan atau pembongkaran begesting pasca pengecoran foot plate angkur beton pondasi sebelah selatan Jembatan Perintis Garuda, yang berada di Kali Asem Dusun Krajan, Desa Karanganom, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari tahapan lanjutan pembangunan infrastruktur jembatan yang diharapkan dapat memperlancar akses transportasi masyarakat sekaligus menunjang aktivitas perekonomian warga setempat. Proses pembongkaran begesting dilakukan secara bergotong royong oleh personel TNI bersama warga dengan penuh semangat kebersamaan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bati Bakti TNI Koramil 0821-17/Pasrujambe, Serma Yunus Ariyanto, bersama Babinsa Karanganom, Sertu Bejo Utomo, yang sejak awal aktif mendampingi proses pembangunan Jembatan Perintis Garuda.

Di sela kegiatan, Serma Yunus Ariyanto mengatakan bahwa keterlibatan TNI dalam pembangunan infrastruktur desa merupakan bentuk kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan sarana penghubung antarwilayah.

“Pelepasan begesting ini merupakan tahapan penting setelah pengecoran foot plate angkur beton selesai dilaksanakan. Kami bersama warga terus bergotong royong agar proses pembangunan jembatan berjalan lancar dan hasilnya dapat segera dimanfaatkan masyarakat,” ujar dia.

Sementara itu, Babinsa Karanganom Sertu Bejo Utomo menambahkan bahwa kebersamaan antara TNI dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam mendukung pembangunan di wilayah binaan. Menurutnya, melalui kegiatan karya bakti seperti ini, hubungan silaturahmi dan kemanunggalan TNI dengan rakyat semakin erat.

“Partisipasi warga sangat luar biasa. Semangat kebersamaan inilah yang menjadi modal utama untuk mempercepat pembangunan demi kepentingan bersama,” ungkapnya.

Warga setempat yang ikut dalam setiap tahapan pembangunan Jembatan Perintis Garuda. Mereka berharap keberadaan jembatan tersebut nantinya dapat memberikan manfaat besar bagi mobilitas warga, khususnya saat musim hujan ketika debit air Kali Asem meningkat.

Dengan sinergi antara TNI dan masyarakat, pembangunan Jembatan Perintis Garuda diharapkan dapat segera rampung dan menjadi sarana penghubung yang aman serta nyaman bagi masyarakat Desa Karanganom dan sekitarnya. (Pendim0821)

Sapi 1,144 Ton Asal Kunir Lumajang Jadi Hewan Kurban Presiden Prabowo


Lumajang, (Onenewsjatim) –
Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, seekor sapi berbobot 1 ton 144 kilogram milik peternak asal Desa Sukosari, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang, terpilih menjadi hewan kurban bantuan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Sapi jenis simmental cross atau simental crushing yang diberi nama “Kang Jo” itu kini masih berada di kandang milik peternak muda, Rehan Zaky Pratama, warga Desa Sukosari. 

Rencananya, sapi kurban Presiden akan disalurkan pada Hari Raya Idul Adha di Masjid Nurul Falah, Jalan PB Sudirman, Kelurahan Tompokersan, Kecamatan Lumajang.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lumajang, sapi tersebut dinyatakan sehat dan layak kurban. 

Kondisi tubuhnya juga terus dipantau menjelang pendistribusian.

Saat ditemui di kandangnya, Rehan mengaku tidak menyangka sapi peliharaannya bisa terpilih menjadi hewan kurban Presiden. 

Ia menyebut kebanggaan itu menjadi impian yang akhirnya terwujud setelah bertahun-tahun merawat sapi dengan penuh kesabaran.

“Alhamdulillah senang banget. Memang cita-cita saya dari dulu, ingin punya sapi yang bisa dibeli bapak Presiden. Bangga sekali rasanya,” ujar Rehan, Sabtu (23/5/2026).

Rehan mengatakan, sapi “Kang Jo” dirawatnya sejak tiga tahun lebih terakhir setelah dibeli dari seorang peternak bernama Pak Jo. Selama perawatan, ia memberikan perhatian penuh layaknya keluarga sendiri.

“Kalau memelihara sapi itu harus sabar. Apalagi sapi besar, kadang seperti manusia, gampang stres dan harus diperhatikan terus. Saya anggap seperti keluarga sendiri. Malam-malam juga sering saya lihat, tidur apa belum,” katanya sambil tersenyum.

Untuk menjaga pertumbuhan bobot sapi, Rehan memberikan pakan berupa ampas tahu, konsentrat, dan tambahan karbohidrat agar pertumbuhan sapi lebih cepat dan maksimal.

“Pakan banyak dari ampas tahu dan konsentrat. Kalau sapi besar lebih banyak butuh karbohidrat supaya cepat berkembang,” jelasnya.

Meski mengaku berat melepas sapi kesayangannya, Rehan merasa bangga karena hewan ternaknya dipilih untuk kurban Presiden RI.

“Sayang pasti sayang, tapi saya ikhlas. Ini kebanggaan besar buat saya karena untuk kurban bapak Presiden,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan sapi bantuan Presiden tahun ini memiliki bobot lebih besar dibanding tahun sebelumnya.

“Kalau tahun lalu beratnya belum sampai satu ton, sekarang sudah 1,144 ton. Dua minggu lalu timbangannya masih 1,44 ton lebih sedikit dan kami berharap setiap hari masih bertambah sekitar satu kilogram,” ujar Bunda Indah usai meninjau sapi kurban Presiden di kandang peternak.

Menurutnya, sapi bantuan Presiden akan diserahkan H-1 Idul Adha kepada pengurus Masjid Nurul Falah untuk selanjutnya disembelih dan dibagikan kepada masyarakat.

“Kalau tahun lalu penyalurannya di Masjid An-Nas Mahfud, sekarang bergantian di Masjid Nurul Falah,” pungkasnya. (Imam)

22/05/2026

Istri Korban Ungkap Detik-detik Carok Maut di Klakah, Pelaku Sempat Minta Maaf


Lumajang, (DOC) –
Tangis duka masih menyelimuti keluarga Abdul Karim Marzuki (55), korban tewas dalam peristiwa carok berdarah di Desa Sumberwringin, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Kamis (21/5/2026).

Saniyeh (55), istri korban, mengaku masih teringat jelas detik-detik suaminya terkapar bersimbah darah usai duel bersenjata tajam dengan tetangganya, Wasil (44), di area kebun sengon desa setempat.

Dengan suara bergetar, Saniyeh menceritakan dirinya menyaksikan langsung suaminya kembali dibacok saat kondisi sudah terluka parah dan duduk di tanah.

“Saya lihat sendiri, terus adiknya (pelaku) datang nambahi bacok bagian pundak, ketika suami saya masih duduk,” ujar Saniyeh sambil menunjuk kedua pundaknya, Jumat (22/5/2026).

Menurutnya, pria yang diduga adik dari Wasil itu datang tiba-tiba dan langsung menyerang Abdul Karim yang saat itu sudah dalam kondisi lemah akibat luka sabetan celurit.

“Duduk sudah terluka, terus ditambahi lagi itu. Tapi nama adiknya saya tidak tahu, orangnya tinggi, kuning dan kurus,” katanya.

Saat kejadian berlangsung, Saniyeh mengaku tidak bisa langsung menolong suaminya karena sedang menggendong cucunya yang masih kecil.

“Saya sambil gendong putu saya, tidak bisa mendekat. Itu langsung lari dan membacok,” bebernya.

Di tengah situasi mencekam tersebut, Saniyeh sempat berteriak menggunakan bahasa Madura agar pertikaian dihentikan karena kedua pria itu sama-sama mengalami luka serius.

“La cong, padeh luka padeh sara,” teriaknya.

Kalimat itu berarti, “Jangan nak, sama-sama luka, sama-sama parah.”

Tidak hanya itu, Saniyeh juga mengungkapkan bahwa Wasil sempat meminta maaf kepadanya setelah duel berdarah tersebut terjadi. Saat itu, pelaku dalam kondisi terluka di bagian perut akibat sabetan celurit dari Abdul Karim.

“Saya lewat di sampingnya, terus tangan saya ditarik,” ujar Saniyeh mengenang momen tersebut.

Dalam kondisi terluka, Wasil beberapa kali menyampaikan permintaan maaf menggunakan bahasa Madura.

“Seporana engkok yu. Engkok seng salah. Tak rapa lah,” kata Saniyeh menirukan ucapan Wasil.

Kalimat itu berarti, “Mohon maaf mbak, saya yang salah.”

Namun saat itu, Saniyeh mengaku tidak mampu berkata banyak karena tidak menyangka pertengkaran tersebut berakhir tragis.

“Mon tak tahu, kejadiannya kedadeannah dekiyeh,” katanya.

Artinya, “Saya tidak tahu kenapa kejadiannya bisa seperti ini.”

Usai berbicara dengan pelaku, Saniyeh kemudian menghampiri suaminya yang saat itu sudah mengalami luka parah di bagian kepala dan tubuh.

Korban bahkan sempat menenangkan istrinya meski kondisinya kritis.

“Dineh saya tak rapa,” ucap Abdul Karim kepada istrinya.

Namun Saniyeh membalas dengan penuh kepanikan.

“Tak rapa gimana, mon mau matah,” katanya.

Yang berarti, “Tidak apa-apa bagaimana, wong mau meninggal.”

Setelah itu, Saniyeh berlari pulang untuk mengambil kain guna membalut luka suaminya. 

Namun saat kembali ke lokasi kejadian, Abdul Karim sudah dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia.

“Saya ke rumah ambil kain untuk bapak, setelah saya balik sudah tidak ada katanya,” ucapnya sambil menahan tangis.

Saniyeh mengatakan, suaminya mengalami luka bacok serius di bagian paha, wajah, dan belakang kepala. Sementara Wasil mengalami luka pada bagian perut dan saat ini masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr Haryoto Lumajang usai menjalani operasi.

Akibat duel maut tersebut, Abdul Karim Marzuki dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian, sedangkan Wasil masih dalam kondisi kritis. 

Polisi kini masih melakukan penyelidikan terkait peristiwa carok berdarah yang menggegerkan warga Desa Sumberwringin itu.

Babinsa Tekung Ajak Warga Mangunsari Gelar Kerja Bakti Jumat Bersih di Tegalsari


Lumajang, (Onenewsjatim)-
Semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan terus ditunjukkan oleh Babinsa Mangunsari Koramil 0821-15/Tekung, Kopka Suwardi, melalui kegiatan kerja bakti pembersihan kanan kiri jalan di sepanjang Dusun Tegalsari RT 008 RW 003 Desa Mangunsari, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Jumat (22/5/2026)

Kegiatan yang dikemas dalam momen “Jumat Bersih” tersebut dilaksanakan bersama perangkat desa dan warga setempat sebagai bentuk kolaborasi nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mempererat hubungan antara TNI dengan masyarakat.

Dengan membawa peralatan sederhana, seluruh peserta tampak antusias membersihkan rumput liar, sampah, dan saluran di sepanjang akses jalan dusun agar lingkungan terlihat lebih rapi, sehat, dan nyaman dilalui masyarakat.

Di sela kegiatan, Kopka Suwardi mengatakan bahwa kerja bakti menjadi salah satu sarana efektif untuk membangun kesadaran bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat.

“Kegiatan Jumat Bersih ini bukan hanya tentang membersihkan lingkungan, tetapi juga mempererat kebersamaan antara Babinsa, pemerintah desa, dan warga. Harapannya budaya peduli lingkungan terus tumbuh demi menciptakan desa yang bersih, sehat, dan nyaman,” kata dia.

Sementara itu, Kasun Tegalsari, Sunaryo, mengatakan bahwa keterlibatan aktif warga dalam kegiatan Jumat Bersih menjadi wujud nyata kepedulian bersama terhadap lingkungan. 

Menurutnya, budaya gotong royong harus terus dijaga karena mampu mempererat kebersamaan sekaligus menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat.

“Momentum Jumat Bersih ini menjadi sarana membangun kesadaran warga agar semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan. Dengan kebersamaan dan semangat gotong royong, lingkungan yang bersih dan sehat tentu dapat terwujud demi kenyamanan bersama,” pungkasnya.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan sinergi antara TNI, pemerintah desa, dan masyarakat dapat terus terjalin kuat dalam mendukung terciptanya lingkungan yang asri, sehat, dan harmonis di wilayah Desa Mangunsari. (Pendim0821)

Babinsa Koramil Sukodono Bersama Warga Kerja Bakti Pembangunan Jembatan Perintis Garuda


Lumajang, (Onenewsjatim)
-Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Dusun Sitiinggil, Desa Kebonagung, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang terus menunjukkan progres positif. Babinsa Kebonagung Koramil 0821-02/Sukodono Sertu Hery Wahyudi bersama warga melaksanakan kegiatan pemasangan besi pylon dan perakitan besi di lokasi pembangunan jembatan, Jumat (22/5/2026).

Kegiatan tersebut merupakan tahapan lanjutan dalam pembangunan konstruksi jembatan yang nantinya akan menjadi akses penghubung penting bagi masyarakat. 

Dalam proses pengerjaan, Babinsa bersama warga tampak kompak melakukan perakitan besi dan pemasangan struktur pylon secara bergotong royong.

Sertu Hery Wahyudi mengatakan bahwa keterlibatan Babinsa dalam pembangunan Jembatan Perintis Garuda merupakan bentuk dukungan TNI terhadap percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah pedesaan.

“Kami bersama warga terus berupaya menyelesaikan setiap tahapan pembangunan dengan semangat kebersamaan. Pemasangan besi pylon ini menjadi bagian penting untuk memperkuat konstruksi jembatan agar nantinya aman dan kokoh digunakan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan jembatan tersebut diharapkan mampu memperlancar mobilitas warga serta mendukung aktivitas ekonomi dan pertanian masyarakat Desa Kebonagung dan sekitarnya.

Warga Dusun Sitiinggil terlihat antusias mengikuti proses pengerjaan. Dengan penuh kekompakan, mereka bersama Babinsa saling membantu dalam proses pengangkatan dan perakitan besi demi mempercepat pembangunan jembatan.

Semangat gotong royong yang terjalin antara TNI dan masyarakat menjadi bukti nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat dalam mendukung pembangunan desa. Kehadiran Jembatan Perintis Garuda nantinya diharapkan mampu menjadi sarana penghubung yang aman, kuat, dan memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan masyarakat sekitar. (Pendim0821)

Komisi X DPR RI Dorong Guru Honorer Diprioritaskan dalam Rekrutmen CASN


Jakarta, (Onenewsjatim) –
Anggota H. Muhamad Nur Purnamasidi mendorong pemerintah agar memberikan prioritas kepada guru honorer atau non-Aparatur Sipil Negara (non-ASN) dalam skema rekrutmen Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) mendatang.

Usulan tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) antara Komisi X DPR RI bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yang membahas berbagai isu strategis di sektor pendidikan, termasuk pemerataan dan pemenuhan kebutuhan tenaga pendidik di seluruh Indonesia.

Menurut pria yang akrab disapa Bang Pur tersebut, kebijakan afirmatif perlu diterapkan sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian panjang para guru honorer yang selama ini tetap menjalankan tugas mengajar di tengah keterbatasan status kepegawaian dan kesejahteraan.

“Dalam RDPU kemarin saya sampaikan, teman-teman guru non-ASN yang sudah memenuhi syarat S1/D4 harus diprioritaskan apabila nanti ada rekrutmen ASN berikutnya,” ujar Muhamad Nur Purnamasidi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (22/5/2026).

Ia menegaskan bahwa negara harus hadir memberikan kepastian karier bagi tenaga pendidik yang telah lama mengabdi di dunia pendidikan, khususnya mereka yang telah memenuhi kualifikasi akademik minimal sarjana (S1) atau diploma empat (D4).

Politisi Partai Golkar itu juga menilai, tanpa adanya keberpihakan kebijakan, guru honorer yang telah bertahun-tahun mengabdi berpotensi kalah bersaing dalam sistem seleksi terbuka CASN.

“Jangan sampai mereka yang sudah lama mengabdi justru kalah bersaing tanpa ada keberpihakan kebijakan dari pemerintah. Negara harus hadir memberikan kepastian dan penghargaan terhadap dedikasi para guru,” tegasnya.

Lebih lanjut, Bang Pur menyoroti masih besarnya jumlah tenaga pendidik non-ASN di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan 

Menengah per 31 Desember 2024, jumlah guru non-ASN tercatat mencapai 237.196 orang yang tersebar di berbagai daerah.

Ia menilai keberadaan guru honorer selama ini menjadi tulang punggung proses belajar mengajar, terutama di daerah yang masih mengalami kekurangan tenaga pendidik. Tanpa kontribusi mereka, proses pendidikan di banyak wilayah dinilai akan terganggu.

Selain itu, ia juga menyinggung kebutuhan regenerasi tenaga pendidik nasional. Mengacu pada siaran pers Badan Kepegawaian Negara, rekrutmen CASN formasi guru terakhir dilakukan pada tahun 2024.

Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi menimbulkan tantangan baru dalam beberapa tahun ke depan seiring banyaknya guru yang memasuki masa purna tugas, sehingga kebutuhan tenaga pendidik baru akan semakin meningkat.

“Ke depan, pemerintah harus benar-benar menyiapkan skema rekrutmen yang adil sekaligus menjawab kebutuhan riil di lapangan, agar tidak terjadi kekosongan tenaga pendidik di sekolah-sekolah,” pungkasnya. (Imam)

Ratusan Kecelakaan di Lumajang Tak Pernah Berlanjut ke Pengadilan, Ini Penjelasan Kejari dan Polantas


Lumajang, (Onenewsjatim) –
Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, penanganan kasus kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, tercatat tidak pernah berujung pada proses peradilan. 

Meskipun ratusan kejadian kecelakaan terjadi setiap tahunnya, seluruh perkara tersebut diselesaikan tanpa pelimpahan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Lumajang.

Kondisi ini dibenarkan oleh pihak Kejari Lumajang yang menyebutkan bahwa dalam dua tahun terakhir, tidak satu pun berkas perkara kecelakaan lalu lintas yang masuk untuk diproses lebih lanjut ke tahap penuntutan.

Kasi Intel Kejari Lumajang, Lukman Akbar Bastiar mengatakan bahwa sejak awal 2026 pihaknya telah menerima sebanyak 158 pelimpahan perkara pidana umum dari 23 jenis tindak pidana. 

Namun, dari seluruh berkas tersebut, tidak ada satu pun yang berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas.

“Untuk pelimpahan perkara kecelakaan tidak ada. Memang sejak tahun 2025 itu tidak pernah ada yang sampai dilimpahkan ke kami,” ujar Lukman, Jumat (22/5/2026).

Ia menegaskan bahwa pola penyelesaian kasus kecelakaan di lapangan cenderung tidak berlanjut ke proses hukum formal karena para pihak yang terlibat lebih memilih jalur kekeluargaan.

“Sejauh ini, kasus-kasus tersebut tidak sampai masuk tahap penuntutan karena sudah diselesaikan secara musyawarah,” tambahnya.

Data dari Unit Laka Satlantas Polres Lumajang mencatat, sepanjang tahun 2025 terjadi sebanyak 524 kasus kecelakaan lalu lintas dengan korban jiwa mencapai 107 orang. 

Sementara pada periode Januari hingga Mei 2026, jumlah kecelakaan telah mencapai 229 kasus dengan 46 korban meninggal dunia

Meski angka kecelakaan tergolong tinggi, seluruh penanganan kasus tersebut tidak ada yang berlanjut hingga meja hijau.

Kanit Penegakan Hukum (Gakkum) Satlantas Polres Lumajang, Ipda Dendy Cucu, menjelaskan bahwa tidak berlanjutnya perkara kecelakaan ke pengadilan disebabkan oleh karakteristik kasus kecelakaan yang kerap melibatkan unsur kelalaian dan dapat diselesaikan melalui kesepakatan para pihak.

“Jadi kecelakaan ini sifatnya fleksibel, terkadang tidak disengaja atau karena human error. Artinya, kalau memang kedua belah pihak mau diselesaikan secara kekeluargaan, tentu tidak mungkin kami lanjutkan perkaranya,” ungkap Dendy.

Ia menambahkan, penyelesaian secara kekeluargaan atau restorative justice kerap menjadi pilihan utama dalam kasus kecelakaan lalu lintas, terutama jika kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan damai, termasuk terkait santunan maupun ganti rugi.

Meski demikian, pihak kepolisian tetap mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam berkendara dan mematuhi aturan lalu lintas untuk menekan angka kecelakaan yang masih cukup tinggi di wilayah Lumajang.

“Kami tetap mengedepankan upaya pencegahan melalui edukasi dan penindakan di lapangan agar angka kecelakaan bisa ditekan,” pungkasnya. (Imam)


© Copyright 2024 Onenewsjatim | All Right Reserved