Lumajang, (Onenewsjatim)- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Kebakaran terjadi di Blok Ranu Kembang atau Ranu Kembar, yang berada di atas Ranu Kumbolo, jalur pendakian Gunung Semeru.
Sebanyak 170 pendaki yang berada di kawasan Ranu Kumbolo dievakuasi untuk mengantisipasi dampak kebakaran. Evakuasi dilakukan karena titik api dikhawatirkan merembet ke arah Ranu Kumbolo.
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho mengatakan informasi mengenai keberadaan ratusan pendaki tersebut diterima pihaknya. Tim gabungan kemudian bergerak untuk memastikan para pendaki turun dari kawasan tersebut.
"Untuk informasi yang kita terima ada 170 pendaki di Ranu Kumbolo. Itu kita minta untuk turun agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, khususnya kepada pendaki," kata Isnugroho.
Dia menyebut rombongan pendaki terakhir dalam proses evakuasi telah mencapai Pos 3 dan berhasil melewati area yang terdampak kebakaran.
"Evakuasi pendaki, info terakhir rombongan terakhir sudah sampai Pos 3 dan lolos dari api," ujarnya.
Isnugroho menjelaskan kebakaran hingga Kamis (27/8) masih belum sepenuhnya padam. Titik kebakaran berada di Ranu Kembar, sekitar satu jam perjalanan dari Ranu Kumbolo.
"Ranu Kembar itu berposisi di atas Ranu Kumbolo dengan jarak tempuh sekitar satu jam. Kondisi medan Ranu Kembar itu hutan dan lereng dengan kecuraman yang tinggi, sehingga pasukan darat tidak bisa melakukan pemadaman secara manual," jelasnya.
Saat ini sekitar 60 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan penanganan di sekitar lokasi. Tim membuat sekat bakar, terutama di kawasan yang berpotensi menjadi jalur penyebaran api dan di sekitar jalur pendakian.
Menurut Isnugroho, kondisi medan membuat pemadaman melalui jalur udara menjadi salah satu opsi yang paling memungkinkan. Pihaknya telah menyarankan pemangku kawasan TNBTS untuk menggunakan metode water bombing dengan helikopter.
"Satu-satunya yang disarankan oleh kami ke pemangku kawasan TNBTS adalah melakukan kegiatan water bombing melalui helikopter," ujarnya.
Namun, upaya pemadaman melalui udara masih terkendala ketersediaan helikopter dan faktor cuaca. Dua helikopter yang sebelumnya digunakan untuk membantu pemadaman di kawasan tersebut kini memiliki tugas lain.
"Satu melakukan pemadaman kebakaran hutan di Kalimantan, yang satu melakukan pemadaman di Gunung Arjuno. Sehingga praktis kondisi heli sekarang masih belum ada kejelasan," jelasnya.
Informasi terakhir, helikopter PK-DAP tidak jadi melakukan water bombing karena faktor cuaca. Helikopter tersebut telah mendarat di Bandara Abdulrachman Saleh, Malang.
Di sisi lain, keselamatan pendaki menjadi perhatian utama. Sebanyak 170 pendaki yang berada di kawasan Ranu Kumbolo dievakuasi untuk mengantisipasi kemungkinan api merembet ke jalur pendakian dan kawasan Ranu Kumbolo.
"Untuk informasi yang kita terima ada 170 pendaki di Ranu Kumbolo. Itu kita minta untuk turun agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, khususnya kepada pendaki," kata Isnugroho.
Tim gabungan kemudian melakukan penyisiran untuk memastikan proses evakuasi berjalan aman. Informasi terakhir, rombongan pendaki terakhir telah mencapai Pos 3 dan berhasil melewati area yang terdampak api.
Isnugroho menegaskan luas area yang terbakar belum dapat dipastikan. Hingga kini belum dilakukan mitigasi secara menyeluruh di lokasi karena medan yang sulit dijangkau.
"Untuk luasan belum bisa diketahui. Saya enggak berani menyampaikan karena memang belum ada mitigasi ke sana," katanya.
Saat ini, tim gabungan lebih fokus memantau pergerakan api agar tidak meluas ke kawasan permukiman warga Desa Ranupani.
"Yang penting kebakaran itu bagaimana jangan sampai masuk ke kawasan permukiman penduduk, khususnya penduduk Ranupani. Jadi kalau pun tetap mendekati, tindakan yang kita lakukan adalah bikin sekat api," ujarnya.
Sekat api dibuat sebagai langkah antisipasi agar kobaran tidak meluas menuju lahan milik warga. Jarak titik kebakaran dengan permukiman Ranupani diperkirakan sekitar 5 kilometer.
"Kita datang ini kan untuk memantau. Hanya memantau pergerakan api, jangan sampai ke kawasan pemukiman," pungkas Isnugroho.









FOLLOW THE Onenewsjatim AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Onenewsjatim on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram