Lumajang, (Onenewsjatim) - Purnomo, warga Jalan Ciliwung, Kelurahan Jogoyudan, Kecamatan Lumajang, kaget setelah mengetahui status desil kesejahteraannya dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) berubah dari desil 3 menjadi desil 5.
Perubahan tersebut berdampak pada bantuan sosial yang selama ini diterimanya. Purnomo mengaku sejak sebelum Hari Raya Idul Fitri 2026 tidak lagi menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).
"Enggak ngerti saya mas, moro-moro desilku dadi lima (tiba-tiba desil saya jadi lima)," kata Purnomo kepada wartawan, Sabtu (5/9/2026).
Purnomo mengaku sebelumnya mendapatkan bantuan PKH yang diberikan setiap tiga bulan sekali. Namun, bantuan tersebut kini tidak lagi diterimanya.
"Dulu biasanya dapat bantuan PKH sekitar Rp 600 ribu. Tiga bulan sekali. Tapi sebelum Lebaran sudah tidak dapat sampai sekarang," ujarnya.
Menurut Purnomo, dirinya baru mengetahui status desilnya berubah setelah bantuan PKH tidak lagi diterima. Ia pun mengaku bingung karena kondisi ekonominya masih tergolong pas-pasan.
Sehari-hari Purnomo mengandalkan penghasilan dari berjualan bakso menggunakan gerobak. Pendapatannya tidak menentu, tergantung dari hasil penjualan setiap hari.
"Kalau habis jualan, paling tinggi laba Rp 100 ribu. Rata-rata ya sekitar Rp 50 ribu sehari," ungkapnya.
Kondisi tersebut semakin berat lantaran Purnomo belum memiliki rumah sendiri. Ia bersama keluarganya masih tinggal di rumah kontrakan dengan biaya sekitar Rp 2 juta per tahun.
"Saya belum punya rumah, masih ngontrak. Setahun Rp 2 juta. Bagian belakang rumah juga masih sesek bambu," tuturnya.
Purnomo juga masih harus memenuhi kebutuhan pendidikan dua anaknya. Salah satu anaknya sedang kuliah dan mendapatkan beasiswa, sedangkan anak lainnya mondok.
"Anak saya dua. Yang satu kuliah alhamdulillah dapat beasiswa, yang kecil mondok. Tapi yang kecil belum dapat bantuan," katanya.
Ia mengaku perubahan status desil tersebut membuat dirinya khawatir. Sebab, di tengah pendapatan yang tidak menentu, bantuan PKH sebelumnya cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
"Dampaknya ya tidak dapat bantuan dari pemerintah," ucapnya.
Purnomo berharap data kondisi sosial ekonominya dapat kembali disesuaikan dengan keadaan sebenarnya. Ia mengaku belum mengajukan pemutakhiran data kepada Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-P3A) Lumajang.
"Saya tidak mengerti. Tiba-tiba desil saya menjadi lima, padahal dulunya ada bantuan," pungkasnya.









FOLLOW THE Onenewsjatim AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Onenewsjatim on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram