Lumajang, (DOC) – Gunung Semeru yang berada di Kabupaten Lumajang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Dalam kurun waktu sepekan, tercatat tiga kali kejadian awan panas guguran (APG) dengan jarak luncur mencapai lima kilometer dari puncak kawah.
Awan panas pertama terjadi pada Jumat (9/1/2026) dengan jarak luncur awal sekitar 4 kilometer, kemudian disusul kejadian berikutnya yang mencapai 5 kilometer. Selanjutnya, awan panas kembali meluncur pada Minggu (11/1/2026) malam sekitar pukul 22.27 WIB, juga dengan jarak luncur hingga 5 kilometer.
Kejadian terbaru berlangsung pada Rabu (14/1/2026), bahkan terjadi dua kali letusan dalam satu hari. Letusan pertama tercatat pukul 11.15 WIB dengan jarak luncur awan panas mencapai 5 kilometer dan amplitudo sekitar 20 milimeter. Letusan kedua terjadi pada pukul 16.29 WIB, disertai angin kencang yang membawa abu vulkanik hingga wilayah Kota Lumajang dan Kecamatan Tekung.
Kalaksa BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengatakan bahwa sejak kejadian pertama, pihaknya langsung melakukan siaga dan penempatan personel di titik-titik rawan.
“Petugas kami tempatkan di wilayah Supiturang, sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga Gondoruso. Tujuannya agar jika terjadi awan panas susulan, mitigasi bisa dilakukan dengan cepat,” ujar Isnugroho.
Ia menjelaskan, meskipun aktivitas sempat terhenti di beberapa waktu, kondisi cuaca yang mendung di lereng Semeru membuat BPBD tetap melakukan pemantauan intensif hingga malam hari.
Menurut Isnugroho, BPBD Lumajang tetap berpedoman pada rekomendasi PVMBG melalui PGA Gunung Sawur, dengan mengimbau masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari puncak kawah, serta tidak melakukan aktivitas di sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer, termasuk sempadan sungai sejauh 500 meter.
“Kami memahami masih ada aktivitas penambangan di daerah aliran sungai. Namun kami terus mengingatkan agar mereka waspada dan segera melakukan evakuasi mandiri ketika ada peringatan,” tegasnya.
Isnugroho juga mengingatkan potensi bahaya lahar dingin, mengingat material vulkanik hasil beberapa kali APG telah menumpuk di wilayah hulu.
“Material sudah menutup jalur hingga kilometer lima. Jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, sangat berpotensi terjadi longsoran lahar dingin, terutama di Besuk Kobokan, Gladak Perak, Sumber Langsep hingga Gondoruso,” jelasnya.
Terkait penyebab aktivitas vulkanik, Isnugroho menyampaikan bahwa berdasarkan pengamatan, getaran vulkanik dalam dengan amplitudo mendekati 0,9 berpotensi memicu letusan. Penumpukan material vulkanik di puncak, ditambah faktor hujan, juga memperbesar tekanan dari bawah.
Ia menegaskan bahwa karakter Gunung Semeru yang sering mengalami letusan kecil justru menjadi tanda pelepasan energi.
“Kalau Semeru sama sekali tidak meletus, justru itu yang berbahaya. Letusan kecil ini seperti proses pernapasan gunung,” katanya.
Selain itu, arah angin saat ini dominan bergerak ke Timur Laut, sehingga wilayah seperti Pasrujambe, Pak Trubus, Kalimujur, Lempeni hingga Kaliasem tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap sebaran abu vulkanik.
Isnugroho mengakui, BPBD Lumajang masih mengalami keterbatasan sarana pemantauan, khususnya CCTV dan Early Warning System (EWS) di wilayah rawan.
“Kami telah mengajukan bantuan ke BNPB sebanyak 15 unit CCTV dan EWS. Harapannya bisa dipasang di wilayah rawan hingga kawasan Pantai Selatan, agar peringatan dini bisa cepat diterima masyarakat,” pungkasnya. (Red)
FOLLOW THE Onenewsjatim AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Onenewsjatim on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram