Probolinggo, (Onenewsjatim)– Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerjunkan dua unit helikopter water bombing untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Langkah pemadaman lewat udara ini diambil mengingat medan kebakaran yang sulit dijangkau oleh tim darat.
Kepala BNPB Suharyanto mengungkapkan, topografi kawasan Bromo yang didominasi perbukitan curam dan vegetasi kencang membuat proses pemadaman manual berjalan lambat dan berisiko bagi personel darat.
"Sementara kami akan mendukung dengan dua unit," kata Suharyanto saat dikonfirmasi, Rabu (5/8/2026).
Suharyanto menjelaskan, seluruh unsur satuan tugas (satgas) di lapangan terus bekerja keras menyekat pergerakan si jago merah. Dukungan dari udara difokuskan untuk menyasar titik-titik api yang terisolasi di lereng-lereng tebing.
"Jenis helikopternya bisa Mi maupun Sikorsky, nanti akan dilihat yang tersedia," ujarnya.
Sesuai rencana, armada udara tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada Rabu (5/8/2026) atau paling lambat Kamis (6/8/2026) jika terdapat kendala operasional.
Kendati demikian, BNPB akan melakukan asesmen teknis terlebih dahulu di lokasi untuk memastikan efektivitas penanganan.
"Kajian tersebut menjadi dasar untuk menentukan apakah dua unit helikopter sudah mencukupi atau diperlukan tambahan armada sesuai perkembangan kondisi di lapangan," tuturnya.
Operasi pemadaman dari udara ini mengacu pada pengalaman kebakaran Gunung Bromo pada 2023. Menurut Suharyanto, penanganan water bombing kala itu terbukti efektif menekan titik api di wilayah yang tidak tersentuh jalur darat.
Di sisi lain, opsi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum bisa diterapkan dalam waktu dekat. Hasil koordinasi BNPB dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan potensi pembentukan awan hujan di wilayah Bromo masih minim.
"Untuk beberapa hari ke depan operasi modifikasi cuaca belum bisa diselenggarakan," ucap Suharyanto.
Suharyanto menegaskan, meski BNPB saat ini juga membagi fokus penanganan karhutla di enam provinsi prioritas yaitu Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan—kawasan TNBTS tetap mendapat perhatian khusus.
Area yang terbakar merupakan kawasan konservasi berketinggian tinggi yang berharga secara ekologis, sekaligus menjadi penggerak perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata.
Kebakaran di kawasan TNBTS pertama kali terdeteksi pada Senin (3/8/2026) sekitar pukul 17.00 WIB di Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Embusan angin kencang dan hamparan savana yang mengering membuat kobaran api dengan cepat meluas hingga ke wilayah Watu Gede di Kabupaten Probolinggo. (Mam)








FOLLOW THE Onenewsjatim AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Onenewsjatim on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram