-->

14/09/2026

Tumpukan Limbah Kayu Terbakar di Lumajang, Rumah Warga Hanya Berjarak 100 Meter


Lumajang, (Onenewsjatim)
– Kebakaran melanda lahan penampungan limbah kayu seluas sekitar 1 hektare di Desa Dawuhan Lor, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Senin (7/9/2026).

Api membakar tumpukan limbah kayu yang berada di lokasi penampungan. Banyaknya material mudah terbakar membuat kobaran api sulit dipadamkan.

Dari pantauan di lokasi, asap tebal terlihat membubung dari area penampungan. Kobaran api juga beberapa kali membesar saat tertiup angin.

Lokasi kebakaran berada cukup dekat dengan permukiman warga. Jarak titik api dengan rumah penduduk diperkirakan hanya sekitar 100 meter.

Petugas pemadam kebakaran kemudian berupaya melakukan pembasahan sekaligus melokalisir kobaran api. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah api merembet ke lahan pertanian dan permukiman warga.

Kabid Damkar Lumajang Mohammad Asro mengatakan, kondisi kebakaran sudah cukup besar ketika petugas tiba di lokasi.

"Melihat posisi seperti ini, kebakarannya sudah terlalu besar," kata Asro saat ditemui di lokasi kebakaran.

Menurut dia, prioritas petugas saat ini bukan hanya memadamkan api, tetapi juga mencegah kobaran api meluas ke area di sekitarnya.

"Kami mengantisipasi agar tidak merambat meluas kepada permukiman dan tidak merambat ke lahan pertanian yang lain," ujarnya.

Damkar Lumajang mengerahkan dua armada untuk menangani kebakaran tersebut. Namun, proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala.

Salah satunya adalah tumpukan limbah kayu yang cukup tebal. Material tersebut membuat api mudah kembali menyala meski telah dilakukan pembasahan.

"Namun demikian, sampah ini sudah terlalu tebal, limbah kayunya. Kami Damkar Lumajang mengerahkan dua armada. Tapi kesulitannya mungkin karena sudah terlalu luas penyebarannya. Terus ditambah angin," kata Asro.

Kondisi di lapangan juga diperparah dengan hembusan angin yang cukup kencang. Asap tebal membuat petugas kesulitan mendekati titik api secara langsung.

Karena itu, dua armada pemadam yang dikerahkan lebih banyak digunakan untuk melakukan pembasahan pada area sekitar lokasi kebakaran.

Salah satu area yang menjadi perhatian petugas adalah lahan tebu milik warga yang berada tepat di samping penampungan limbah kayu.

Pembasahan dilakukan untuk membuat area tersebut tetap basah sehingga api tidak mudah merambat apabila kobaran api terdorong angin.

Petugas juga melakukan penyekatan dan pelokalisiran api. Upaya ini menjadi langkah penting mengingat jarak lokasi kebakaran dengan permukiman warga hanya sekitar 100 meter.

Selain permukiman, terdapat pula lahan pertanian warga yang berada di sekitar lokasi penampungan.

Petugas masih disiagakan di lokasi untuk memantau perkembangan titik api dan memastikan kobaran tidak meluas.

Sementara itu, akses jalan yang menghubungkan Desa Dawuhan Lor, Kecamatan Sukodono, menuju Desa Bodang, Kecamatan Padang, juga ditutup sementara.

Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih belum diketahui. Petugas masih melakukan penanganan di lokasi.

11/09/2026

Kebakaran Kembali Melanda Kawasan Gunung Bromo, Petugas Berjibaku Padamkan Api


Probolinggo, (Onenewsjatim) 
– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di kawasan Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Kebakaran yang mulai terjadi sejak Kamis (10/9/2026) sore itu hingga Jumat (11/9/2026) masih dalam penanganan petugas gabungan. 

Informasi di lapangan menyebutkan, kobaran api di kawasan Blok Penggol, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, mulai meluas ke arah lembah Watangan atau yang dikenal masyarakat sebagai Bukit Teletubies.

Petugas gabungan dari TNBTS, BPBD, TNI-Polri dan relawan terus melakukan pemantauan sekaligus upaya pemadaman untuk mencegah api semakin meluas.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarif mengatakan, proses pemadaman menghadapi kendala karena lokasi kebakaran berada di kawasan dengan medan yang cukup ekstrem.

"Kebakaran terjadi di Blok Penggol, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura sejak Kamis sore hingga hari ini masih belum berhasil dipadamkan," kata Oemar Sjarif saat dihubungi melalui telepon seluler, Jumat (11/9/2026).

Menurut Oemar, salah satu kendala utama petugas adalah kondisi tebing yang curam sehingga tidak seluruh titik api dapat dijangkau secara langsung.

Selain itu, angin kencang membuat api lebih cepat menjalar, terutama pada kawasan yang ditumbuhi ilalang dan vegetasi kering.

"Petugas gabungan mengalami kendala karena area yang terbakar berada di tebing yang curam sehingga sulit dijangkau. Angin yang cukup kencang juga menyebabkan titik api lebih cepat menjalar ke area lain," ujarnya.

Untuk mengantisipasi api semakin meluas, petugas melakukan penyekatan dengan membuat sekat bakar di sejumlah lokasi yang dinilai berpotensi menjadi jalur penjalaran api.

Upaya tersebut dilakukan agar kobaran api tidak semakin mudah menjalar ke kawasan lain, terutama ke arah lembah.

"Petugas melakukan penyekatan. Namun angin cukup kencang sehingga memudahkan titik api menjalar ke ilalang kering. Penyekatan dilakukan agar api tidak menjalar ke tempat lain," jelasnya.

Oemar menambahkan, selain pemadaman secara manual, penanganan karhutla juga dilakukan dengan menggunakan helikopter water bombing milik BPBD Provinsi Jawa Timur.

Penggunaan helikopter menjadi salah satu opsi karena terdapat sejumlah titik api yang berada di tebing curam dan sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.

"Selain secara manual, upaya pemadaman juga dilakukan menggunakan helikopter atau water bombing dari BPBD Provinsi Jawa Timur," katanya.

Namun, upaya pemadaman dari udara juga tidak selalu berjalan optimal. Kondisi kabut yang turun di kawasan TNBTS menjadi salah satu kendala bagi helikopter untuk melakukan penyiraman dari udara.

Karena itu, petugas di lapangan masih terus menyesuaikan pola penanganan berdasarkan kondisi cuaca dan medan.

"Kabut terkadang menjadi kendala tersendiri bagi helikopter. Mudah-mudahan hari ini cuaca cerah sehingga pemadaman bisa lebih dioptimalkan, baik secara manual maupun melalui water bombing," tutur Oemar.

Sementara itu, petugas gabungan hingga Jumat masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik api di kawasan Bukit Penggol.

Pergerakan api yang dilaporkan mengarah ke kawasan lembah Watangan atau Bukit Teletubies menjadi perhatian petugas. Kondisi angin yang berubah-ubah membuat penyekatan harus terus dilakukan untuk menghambat penjalaran api.

Oemar memastikan upaya penanganan masih terus dilakukan bersama seluruh unsur yang terlibat. Petugas tidak hanya berupaya memadamkan titik api, tetapi juga mencegah kobaran menjalar lebih luas.

"Yang menjadi kendala adalah ketinggian dan kemiringan tebing yang sulit didaki serta angin yang cukup kencang. Karena itu, saat ini kami melakukan penyekatan-penyekatan supaya api tidak menjalar ke bawah dan meluas," pungkasnya. (Nur) 

BPBD Lumajang Waspadai APG Semeru, 36 Juta Kubik Material Berpotensi Bergerak ke Timur


Lumajang, (Onenewsjatim
) - Tumpukan material vulkanik di kawasan puncak Gunung Semeru, Jawa Timur, diperkirakan mencapai sekitar 36 juta meter kubik. 

Material tersebut menjadi salah satu potensi bahaya yang terus dipantau karena dapat bergerak turun apabila terjadi aktivitas vulkanik maupun kondisi tertentu di kawasan puncak.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, S.Sos., mengatakan angka tersebut merupakan perkiraan material yang berpotensi mengalami pergerakan dari kawasan puncak Semeru.

"Kalau sekitar 36 juta kubik itu saja. Ini kira-kira bisa salah, bisa benar," kata Isnugroho.

Menurutnya, material yang berada di kawasan bukaan kawah Gunung Semeru berpotensi bergerak mengikuti kondisi lereng dan jalur aliran. Bukaan kawah yang berada di kawasan Jonggring Saloko diketahui mengarah ke tenggara.

Namun, BPBD Lumajang belum dapat memastikan secara keseluruhan volume material yang menumpuk di sepanjang lereng Semeru. Pemetaan secara lebih detail sebelumnya telah diminta kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tetapi terkendala kondisi cuaca.

"Itu yang ada, yang berpotensi untuk turun. Bukaan kawah mulai dari titik Kawah Jonggring Saloko itu mengarah ke tenggara," ujarnya.

"Kalau tumpukan material yang ada di lereng Semeru kita nggak bisa pastikan. Karena memang itu pernah saya request di PVMBG untuk dilakukan pemetaan drone, ternyata cuacanya berkabut, mendung," sambungnya.

Isnugroho menyebut endapan material vulkanik juga telah memenuhi sejumlah bagian jalur dari kawasan bukaan kawah. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam upaya mitigasi apabila sewaktu-waktu terjadi aliran material dalam jumlah besar.

"Endapan itu sudah memenuhi dari bukaan kawah hingga kilometer 2.000. Itu sudah dipatahkan, sudah penuh," katanya. 

BPBD Lumajang telah melakukan mitigasi bersama sejumlah pihak untuk memetakan kemungkinan arah aliran material apabila terjadi banjir lahar maupun awan panas guguran (APG).

Untuk potensi banjir lahar, Isnugroho mengatakan jalur Curah Kobokan menjadi salah satu kawasan yang diprioritaskan. Infrastruktur pengendali aliran di kawasan tersebut juga terus diperkuat.

"Kalau terjadi banjir lahar, kemarin kita mitigasi bersama kawan-kawan di pos. Kemungkinan untuk lari ke Sumbersari atau ke Besuk Kembar, Pronojiwo itu kecil," jelasnya.

Menurutnya, perbaikan daerah aliran sungai di Curah Kobokan yang dilakukan melalui pembangunan sabuk dam membuat jalur tersebut dinilai lebih mampu menampung aliran material.

"Kemungkinannya cuma satu kalau terjadi lahar dingin turun, itu larinya ke DAS Curah Kobokan," imbuhnya.

Isnugroho menyebut kawasan Curah Kobokan saat ini memiliki kapasitas tampung material yang cukup besar. Bahkan, kedalaman kawasan aliran tersebut disebut mencapai sekitar 40 meter.

"Untuk di Curah Kobokan sangat-sangat menampung. Itu kedalamannya ada kalau 40 meter. Kalau aliran laharnya ke sana, material vulkaniknya bisa ditampung," katanya.

Waspadai Potensi APG Mengarah ke Timur

Sementara itu, skenario berbeda perlu diwaspadai apabila terjadi awan panas guguran dalam skala besar. Selain menuju DAS Curah Kobokan, material berpotensi bergerak ke arah timur apabila jalur aliran di kawasan bukaan kawah terbuka.

"Apabila terjadi APG, kemungkinan yang kedua selain DAS Kobokan, lari ke timur. Ke timur itu karena sudah ada endapan-endapan yang numpuk di bukaan kawah," terang Isnugroho.

Jika jalur tersebut terbuka, aliran material berpotensi mengarah ke kawasan Kebon Seket, Desa Sumbermujur, hingga Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro.

"Sehingga dimungkinkan kalau jalan itu terbuka, larinya Kebon Seket, Desa Sumbermujur, Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro. Nah, ini yang perlu kita waspadai," ujarnya.

Untuk memperkuat mitigasi, pembangunan tanggul di kawasan timur Gladak Perak juga terus dilakukan. Saat ini ketinggian tanggul disebut telah mencapai sekitar 10 meter.

"Yang ada di timur Gladak Perak itu tanggulnya juga sudah setinggi 10 meter sudah terbangun," kata Isnugroho.

Pembangunan tersebut ditargetkan selesai pada 2027 apabila tidak terdapat kendala maupun bencana alam yang menghambat pekerjaan.

"Nanti perkiraannya 2027 itu selesai apabila tidak ada kendala atau bencana alam. 2027 bisa selesai," tambahnya.

Di tengah potensi bahaya tersebut, BPBD Lumajang memastikan pemantauan aktivitas Gunung Semeru dilakukan secara berkelanjutan. Petugas disiagakan selama 24 jam dengan sistem pergantian.

"Jadi kami BPBD 1x24 jam pergantian memantau terus," tegas Isnugroho.

BPBD juga mengingatkan masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana agar tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Semeru.

Sejumlah sistem peringatan dini juga telah disiapkan. Sirene berada di kawasan Curah Kobokan, Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, serta Bukit Padat, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo.

Selain sirene, masyarakat di kawasan Supiturang dan Oro-Oro Ombo juga dapat memanfaatkan aplikasi peringatan dini yang tersedia untuk mendapatkan informasi terkait potensi bahaya.

Isnugroho meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak jelas sumbernya, terutama kabar mengenai erupsi Gunung Semeru yang beredar di media sosial.

Erupsi Semeru Terjadi Setiap Hari


BPBD Lumajang juga meluruskan pemahaman masyarakat mengenai istilah erupsi dan awan panas guguran. Menurut Isnugroho, erupsi tidak selalu berarti letusan besar.

"Erupsi itu setiap hari ada. Jadi erupsi itu apapun yang keluar dari perut gunung sampai ke bukaan kawah, baik itu letusan, embusan, guguran, lontaran material, lava pijar, itu dikatakan erupsi," jelasnya.

Sedangkan awan panas guguran atau APG merupakan salah satu bentuk erupsi dengan skala bahaya yang lebih besar karena membawa material panas yang bergerak menuruni lereng.

"APG salah satu bentuk erupsi. Hanya APG ini skalanya lebih besar karena ada awan panas guguran," ujarnya.

Ia juga menjelaskan istilah kegempaan yang kerap muncul dalam laporan aktivitas Gunung Semeru. Kegempaan berkaitan dengan aktivitas seismik di dalam gunung, termasuk gempa tektonik jauh, vulkanik dalam, hingga tremor.

"Kalau kegempaan itu menyangkut ukuran kekuatan seismik. Di dalamnya ada tektonik jauh, ada vulkanik dalam, ada tremor. Itu bahasa-bahasa kegempaan," pungkasnya.

09/09/2026

Patroli Skala Besar Polres Lumajang, 41 Motor Ditindak karena Knalpot Brong


Kanit Turjawali Satlantas Polres Lumajang Ipda Aulia Dheta Astarika

Lumajang, (Onenewsjatim)
– Polres Lumajang mengamankan 60 sepeda motor dalam patroli skala besar untuk mengantisipasi aksi balap liar di wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (5/9/2026).

Dari 60 kendaraan yang diamankan, sebanyak 41 kendaraan ditindak karena ditemukan pelanggaran. Sebagian besar di antaranya menggunakan knalpot brong atau tidak sesuai spesifikasi teknis.

Kanit Turjawali Satlantas Polres Lumajang Ipda Aulia Dheta Astarika mengatakan, tidak seluruh kendaraan yang diamankan kemudian ditindak.

Setelah dilakukan pemeriksaan, sejumlah kendaraan dilepas karena dinilai lengkap dan masih sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan.

"Yang kami amankan 60. Yang kami tindak 41. Sisanya kami lepas karena lengkap, kendaraannya sesuai spesifikasi, ada helmnya juga," kata Aulia.

Menurut Aulia, kendaraan yang ditindak akan menjalani proses sesuai ketentuan. Pemilik kendaraan diminta mengembalikan kondisi sepeda motor menjadi standar, termasuk mengganti knalpot brong dengan knalpot standar.

Selain itu, kendaraan yang tidak dilengkapi pelat nomor wajib dipasangi pelat. Pemilik juga harus melengkapi dokumen kendaraan seperti STNK dan BPKB.

"Untuk persidangan nanti, kendaraan dijadikan standar semua. Knalpot ditinggal. Apabila tidak ada pelat, dipasang pelat. BPKB dan STNK harus dilengkapi, nanti dilampirkan. Baru bisa tukar barang bukti," ujarnya.

Balap Liar Bergeser ke Dalam Kota

Patroli skala besar tersebut dilakukan salah satunya untuk merespons keluhan masyarakat terkait aksi balap liar yang belakangan mulai bergeser ke kawasan dalam kota Lumajang.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian polisi adalah lampu merah Perempatan ST di Jalan PB Sudirman. Di kawasan tersebut, polisi menemukan banyak anak muda yang berkumpul dan diduga melakukan aktivitas yang berkaitan dengan balap liar.

Aulia mengatakan, sebelumnya aksi balap liar lebih sering dilakukan di Jalan Slamet Riyadi atau kawasan Semar. Namun, belakangan aktivitas tersebut mulai berpindah ke sejumlah ruas jalan di tengah kota.

"Biasanya anak muda melakukan balap liar di Jalan Slamet Riyadi (Semar), sekarang pindah ke dalam kota," kata Aulia.

Polisi juga menerima sejumlah laporan masyarakat melalui layanan darurat 110 terkait aktivitas balap liar dan kerumunan anak muda di tengah kota.

Menurut Aulia, aksi tersebut berpotensi membahayakan pengguna jalan lain. Para pelaku biasanya terlebih dahulu berkumpul dan melihat situasi sebelum memulai balapan.

"Biasanya mereka melihat situasi. Kalau tidak ada polisi, jalan langsung ditutup dari arah utara, baru mereka start. Banyak yang menonton dan berkumpul bersama," jelasnya.

Kondisi itu membuat polisi meningkatkan patroli untuk mencegah aksi balap liar sekaligus mengurangi penggunaan knalpot brong di kawasan perkotaan.

Pelaku Balap Liar Bisa Ditahan Tiga Bulan

Aulia menegaskan, polisi akan memberikan tindakan lebih tegas terhadap pengendara yang terbukti melakukan balap liar, terlebih jika dilakukan di kawasan tengah kota.

Kendaraan yang digunakan untuk aksi balap liar dapat diamankan dan ditahan selama tiga bulan sesuai proses penindakan yang dilakukan kepolisian.

"Kalau melakukan aksi balap liar, kendaraan sepeda motor diamankan dan ditahan selama tiga bulan. Apalagi balap liar di tengah kota, kita sanksi lebih daripada yang lain karena sangat rawan," ujarnya.

Ia menyebut waktu terjadinya aksi balap liar juga mulai berubah. Jika sebelumnya lebih sering terjadi setelah tengah malam, polisi kini menemukan aktivitas tersebut mulai muncul sekitar pukul 22.00 WIB.

"Kalau biasanya jam 12 malam ke atas, sekarang jam 10 malam sudah mulai. Satu atau dua kendaraan mulai start di tengah kota, apalagi dekat Polres," kata Aulia.

Orang Tua Wajib Dampingi Pengambilan Kendaraan

Aulia mengatakan, sebagian pengendara yang diamankan merupakan anak muda, termasuk pelajar.

Polisi memberikan kesempatan kepada pemilik kendaraan untuk melengkapi persyaratan sebelum kendaraan dapat diambil melalui mekanisme yang berlaku.

Kendaraan harus dikembalikan ke kondisi standar, sementara surat-surat kendaraan juga wajib dilengkapi.

"Karena kebanyakan anak sekolah, buat sekolah. Jadi kita persilakan dilengkapi, surat-surat lengkap, kendaraan distandarkan semua," katanya.

Dalam proses pengambilan kendaraan, orang tua juga diwajibkan hadir ke Polres Lumajang.

Polisi mengimbau para orang tua meningkatkan pengawasan terhadap anak-anaknya. Masyarakat juga diminta tidak ikut melakukan maupun menonton aksi balap liar karena berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.

"Kalau ada balap liar, jangan sampai menonton maupun ikut. Karena itu rawan," pungkas Aulia (imam).

08/09/2026

Antrean BBM di Lumajang Meningkat, Pasokan dari Surabaya dan Malang Tetap Lancar


Lumajang, (Onenewsjatim) –
Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih terjadi. 

Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya permintaan BBM setelah pasokan di sejumlah SPBU Kabupaten Jember mengalami gangguan.

Pemerintah Kabupaten Lumajang memastikan ketersediaan stok BBM bagi wilayah Lumajang tidak dipengaruhi kemacetan jalur Ketapang, Banyuwangi.

Pasalnya, pasokan BBM untuk wilayah Lumajang dikirim langsung dari Surabaya dan Malang. Distribusi tersebut tidak melalui jalur Ketapang yang mengalami kemacetan.

"Kalau Lumajang memang tidak dikirim dari Ketapang tetapi dari Surabaya. Kecuali yang Pronojiwo itu dikirim dari Malang," kata Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Lumajang, Bonni Momenta, di Lumajang, Selasa (8/9/2026).

Bonni menjelaskan, gangguan distribusi menuju Jember membuat sejumlah SPBU di daerah tersebut mengalami kekosongan stok. Kondisi itu kemudian mendorong sebagian masyarakat Jember mencari BBM ke wilayah lain, termasuk Lumajang.

"Nah, pengiriman ke arah Jember itu mengalami gangguan, sehingga banyak SPBU mengalami kekosongan. Efek dari kosongnya Jember itu banyak masyarakat yang lari ke wilayah Lumajang bahkan di beberapa kota lain sekitar," ujarnya.

Stok BBM Lumajang masih ratusan kiloliter

Berdasarkan data per 7 September 2026, stok BBM di seluruh SPBU Lumajang masih mencapai ratusan kiloliter (KL).

Untuk BBM bersubsidi, stok Pertalite tercatat sebanyak 252 KL, sedangkan Biosolar mencapai 167 KL.

Sementara itu, stok BBM nonsubsidi terdiri dari Pertamax sebanyak 103 KL, Pertamax Turbo 38 KL, dan Pertamina Dex 27 KL.

Bonni mengatakan, stok tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Lumajang.

Ia memastikan pemerintah bersama Pertamina terus memantau kondisi stok dan perkembangan konsumsi BBM di lapangan.

"Mudah-mudahan cukup. Hal itu terus dipantau oleh Pertamina karena Pertamina sudah melihat fenomena itu dan nantinya akan dilakukan penambahan jika kurang stok untuk di Lumajang," ungkapnya.

Realisasi BBM bahkan melebihi kuota

Bonni menambahkan, kebutuhan BBM di Lumajang dalam beberapa waktu terakhir bahkan telah melampaui kuota yang ditetapkan.

Pada Agustus 2026, misalnya, realisasi penyaluran Pertalite di 19 SPBU Lumajang mencapai sekitar 7.900 KL. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kuota yang berada di kisaran 7.100 KL.

Hal serupa terjadi pada Biosolar. Dari kuota sekitar 5.022 KL, realisasinya mencapai sekitar 6.000 KL.

"Seperti Agustus kemarin itu kuota realisasinya melebihi kuota yang ditentukan. Untuk Pertalite itu 7.100 sekian kiloliter, realisasinya 7.900. Untuk Biosolar 5.022 kiloliter itu realisasinya malah sampai 6.000," jelas Bonni.

Untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan, Pertamina juga menyiapkan tambahan pasokan. Bonni menyebut tambahan Biosolar mencapai sekitar 200 KL.

Sementara untuk BBM nonsubsidi, terdapat tambahan pasokan Pertamax dan jenis BBM lainnya sesuai kebutuhan di lapangan.

"Yang menjadi atensi itu Pertalite dan Biosolar. Iya, Biosolar itu yang menjadi atensi. Tapi tetap ada tambahan," katanya.

Bonni memastikan kondisi stok BBM di Lumajang terus dipantau. Jika terjadi peningkatan permintaan yang berpotensi mengurangi ketersediaan di SPBU, penambahan pasokan akan dilakukan.

Dengan demikian, antrean yang terjadi saat ini tidak serta-merta menunjukkan adanya kelangkaan BBM di Lumajang, melainkan salah satunya dipengaruhi peningkatan permintaan akibat pergeseran pembelian dari wilayah Jember.

BBM Langka di Lumajang, Sopir Truk dan Ojol Kehilangan Penghasilan


Lumajang, (Onenewsjatim)
– Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mulai memukul pendapatan harian sopir truk dan pengemudi ojek online (ojol).

Waktu kerja mereka tersita untuk mengantre BBM. Akibatnya, perjalanan mengangkut barang maupun menerima pesanan harus dikurangi, bahkan sebagian order terpaksa dibatalkan.

Kondisi itu dirasakan Sami’an, sopir truk pengangkut semen asal Desa Sukosari, Kecamatan Jatiroto, Lumajang.

Pada Selasa (8/9/2026), Sami’an mengaku sudah lebih dari satu jam mengantre solar di SPBU Sukodono, Lumajang. Ia mulai mengantre sekitar pukul 09.00 WIB, tetapi hingga pukul 10.10 WIB belum mendapat giliran mengisi BBM.

“Kami sopir kan borongan, biasanya dapat tiga kali angkut. Gara-gara antre cuma bisa sekali angkut,” ujar Sami’an saat ditemui di tengah antrean.

Menurut Sami’an, setiap satu kali pengiriman semen di wilayah Lumajang, ia memperoleh upah sekitar Rp 50.000.

Dengan waktu yang habis untuk mengantre BBM, dua rit pengiriman yang biasanya bisa dilakukan tidak dapat terlaksana.

“Biasanya kan Rp 50 ribu satu rit. Kalau dua rit yang tidak terkirim, berarti ada Rp 100 ribu yang hilang dalam sehari,” katanya.

Beli Solar Eceran Lebih Mahal

Sami’an mengatakan kondisi serupa juga terjadi sehari sebelumnya. Karena tidak memiliki cukup waktu untuk mengantre di SPBU, ia terpaksa membeli solar eceran.

Namun, harga solar eceran yang dibelinya jauh lebih mahal.

“Golek eceran, tidak nutut waktunya sampai beli eceran dengan harga Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu. Dapat lima liter cuma,” ujarnya.

Menurut dia, antrean panjang terjadi di sejumlah SPBU di Lumajang sehingga aktivitas pengiriman semen ikut terganggu.

Ojol Batalkan Tiga Pesanan

Dampak kelangkaan BBM juga dirasakan pengemudi ojol, Holil, warga Desa Grati, Kecamatan Sumbersuko, Lumajang.

Holil mengaku telah menghabiskan sekitar 30 menit untuk mengantre Pertalite di SPBU Sukodono pada Senin.

Saat itu, masih terdapat sekitar 10 kendaraan di depannya.

“Sudah tiga kali antre SPBU. Di Bago tadi saya cari tidak ada, sekarang SPBU ketiga. Pembatalan orderan sudah otomatis terjadi, ada mungkin tiga orderan terpaksa dibatalkan, lah wong antre BBM,” kata Holil.

Holil mengatakan kelangkaan Pertalite telah dirasakannya selama sekitar lima hari terakhir.

Antrean panjang di SPBU membuat waktu produktifnya sebagai pengemudi ojol berkurang.

“Ini saya sudah tiga puluh menit antre, sampai sekarang belum juga dapat. Otomatis tidak bisa kerja,” ucapnya.

Tak hanya SPBU, Holil juga kesulitan mendapatkan Pertalite di kios BBM eceran. Bahkan, beberapa kali ia tidak bisa bekerja karena tidak mendapatkan bahan bakar.

“Sempat kemarin cari Pertalite tidak ada barangnya di SPBU jadi tidak bisa kerja. Cari eceran juga tidak ada,” katanya.

Kemacetan Banyuwangi Ganggu Distribusi BBM

Antrean panjang BBM di Lumajang disebut berkaitan dengan terganggunya distribusi BBM dari Depo Tanjungwangi, Banyuwangi.

Kemacetan kendaraan hingga sekitar 12 kilometer terjadi di kawasan Ketapang, Banyuwangi, seiring revitalisasi kapasitas dermaga ASDP. Kondisi tersebut membuat truk pengangkut BBM dari Depo Tanjungwangi tidak dapat melakukan pengiriman ke sejumlah SPBU di Lumajang secara optimal.

Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menyatakan telah melakukan sejumlah langkah untuk menjaga pasokan BBM di wilayah terdampak.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan pihaknya memahami adanya antrean di sejumlah SPBU di Jember, Lumajang dan wilayah sekitarnya.

“Pertamina terus memperkuat penyaluran dan mengatur prioritas pengiriman, khususnya untuk SPBU di pusat kota,” kata Ahad melalui keterangan tertulis.

Pertamina juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lumajang untuk mencegah panic buying. Masyarakat diminta membeli BBM sesuai kebutuhan.

“Di saat yang sama, kami juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar masyarakat tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Ahad mengatakan Pertamina telah memetakan kebutuhan BBM di setiap wilayah untuk menentukan prioritas pengiriman.

Penguatan pasokan dilakukan melalui optimalisasi dan alih pasokan agar distribusi dapat kembali berjalan lebih lancar.

“Pertamina merespons kebutuhan tersebut dengan memperkuat penyaluran. Pada 5 September 2026, realisasi supply Pertalite telah mencapai sekitar 110 persen yang menunjukkan bahwa proses build up stok di SPBU mulai berjalan,” kata Ahad.

Pertamina juga berkoordinasi dengan Integrated Terminal (IT) Tanjungwangi Banyuwangi agar pengiriman BBM ke Lumajang dapat dialihkan melalui IT Surabaya dan IT Malang.

Dengan skema tersebut, armada pengangkut BBM diharapkan dapat lebih difokuskan untuk memperkuat distribusi di wilayah Jember, Lumajang dan sekitarnya.

07/09/2026

Antrean Pertalite Terjadi di Sejumlah SPBU Lumajang, Ini Penjelasan Pertamina


Lumajang, (Onenewsjatim) –
Antrean panjang kendaraan terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sejak pagi hari.

Pantauan di lapangan pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 07.30 WIB, antrean kendaraan terlihat di SPBU Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian. 

Mayoritas kendaraan yang mengantre merupakan sepeda motor yang hendak membeli Pertalite.

Panjangnya antrean bahkan membuat barisan kendaraan memanjang hingga ke ruas jalan raya di depan SPBU.

Kondisi serupa juga terlihat di SPBU Desa Besuk, Kecamatan Tempeh. Sejumlah kendaraan roda dua maupun roda empat tampak mengantre untuk mendapatkan Pertalite dan Solar.

Antrean kendaraan roda dua terlihat cukup panjang. Sebagian pengendara memilih beralih membeli Pertamax setelah melihat antrean Pertalite yang mengular.

Situasi yang sama terjadi di SPBU Labruk Lor, Kecamatan Lumajang. Sejak pagi, masyarakat terlihat mulai berdatangan dan mengantre untuk mendapatkan Pertalite maupun Solar.

Salah seorang pengendara motor, Anto, mengaku harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan Pertalite.

"Saya sudah antre sekitar setengah jam. Kemarin saya mau mengisi di sini, tetapi sempat kosong," kata Anto saat ditemui di SPBU Labruk Lor.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat sejumlah pengendara memilih datang lebih pagi agar mendapatkan BBM.

Antrean kendaraan juga terlihat di SPBU Sukodono. Barisan kendaraan bahkan tampak memanjang hingga ke luar area SPBU.

Distribusi Terkendala Kemacetan di Ketapang

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan antrean yang terjadi di sejumlah SPBU Jember, Lumajang dan sekitarnya dipengaruhi kendala distribusi BBM.

Menurut Ahad, salah satu faktor utamanya adalah kemacetan panjang di wilayah Ketapang, Banyuwangi, yang berdampak terhadap waktu tempuh mobil tangki menuju SPBU.

"Kemacetan di jalur Ketapang, Banyuwangi mencapai sekitar 12 kilometer dan terjadi seiring dengan adanya kegiatan revitalisasi kapasitas dermaga ASDP," ujar Ahad.

Kondisi tersebut membuat pengiriman BBM ke wilayah Jember dan sekitarnya tidak berjalan optimal.

Di sisi lain, Pertamina mencatat adanya peningkatan konsumsi BBM jenis gasoline dibandingkan kondisi normal.

Peningkatan konsumsi tersebut, kata Ahad, salah satunya dipengaruhi kekhawatiran masyarakat sehingga terjadi pembelian BBM secara berlebihan atau panic buying.

"Di sisi lain, peningkatan konsumsi akibat kekhawatiran masyarakat atau panic buying turut memberikan tekanan terhadap ketersediaan BBM di SPBU. Konsumsi produk gasoline mengalami peningkatan dibanding kondisi normal," katanya.

Pertamina Perkuat Pasokan Pertalite

Untuk mengurai antrean, Pertamina mengaku terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait di wilayah Jember, Lumajang dan sekitarnya.

Koordinasi dilakukan untuk memetakan kebutuhan BBM di masing-masing wilayah, mengatur prioritas pengiriman, serta memperkuat pasokan Pertalite melalui optimalisasi dan alih suplai.

Pertamina juga memperkuat penyaluran BBM ke sejumlah SPBU yang membutuhkan tambahan pasokan.

Pada 5 September 2026, realisasi pasokan Pertalite disebut telah mencapai sekitar 110 persen.

"Realisasi supply Pertalite telah mencapai sekitar 110 persen, yang menunjukkan bahwa proses build up stok di SPBU mulai berjalan," kata Ahad.

Menurut dia, Pertamina masih terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga ketersediaan BBM sekaligus mempercepat normalisasi kondisi di lapangan.

"Kami memahami adanya antrean yang terjadi di sejumlah SPBU Jember, Lumajang dan sekitarnya. Pertamina terus memperkuat penyaluran dan mengatur prioritas pengiriman, khususnya untuk SPBU di pusat kota," ujar Ahad.

Pertamina juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar distribusi BBM dapat berjalan lebih optimal.

Masyarakat diimbau tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan untuk mencegah terjadinya peningkatan antrean akibat pembelian berlebihan.

"Di saat yang sama, kami juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar masyarakat tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan," pungkasnya.

05/09/2026

Cegah Karhutla dan Penyakit Masyarakat, Polres Probolinggo Rangkul Warga Tengger


Probolinggo, (Onenewsjatim)–
Polres Probolinggo Polda Jawa Timur memperkuat sinergi dengan masyarakat adat Tengger dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) serta memitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Langkah ini dilakukan melalui kegiatan silaturahmi dan sosialisasi yang digelar di Balai Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo dan dihadiri jajaran Pejabat Utama (PJU) Polres Probolinggo Polda Jatim sebagai wadah dialog interaktif pada Jumat, (4/9/2026).

Selain membahas kelestarian lingkungan Bromo, pertemuan tersebut juga mengulas antisipasi penyakit masyarakat seperti penyalahgunaan narkoba, judi online (judol), minuman beralkohol, hingga keamanan di kawasan wisata Gunung Bromo.

Kapolres Probolinggo, AKBP Asmida Rizki Siregar, melalui Kasat Intelkam AKP Hartanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen Polri untuk selalu hadir di tengah masyarakat akar rumput.

“Melalui silaturahmi dan dialog ini, kami ingin membangun komunikasi yang semakin erat dengan masyarakat Tengger. Kami berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama menjaga situasi kamtibmas agar tetap aman, nyaman, dan kondusif,” ujar AKP Hartanto.

Mengingat Kecamatan Sukapura merupakan kawasan penyangga Gunung Bromo, ancaman kebakaran hutan menjadi perhatian khusus. 

Kapolsek Sukapura, Iptu D.J. Setyo, menegaskan pihaknya terus mengedepankan langkah preventif kepada warga setempat maupun wisatawan.

“Khusus terkait karhutla di kawasan Gunung Bromo dan sekitarnya, kami mengedepankan pencegahan melalui edukasi dan imbauan agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan percikan api. Jika melihat potensi kebakaran, kami meminta warga segera melapor ke petugas agar bisa ditangani sedini mungkin,” kata Iptu D.J. Setyo.

Selain isu lingkungan, ancaman narkoba dan judi online juga menjadi poin penting dalam sosialisasi tersebut. Kasat Resnarkoba Iptu Darmawan menekankan pentingnya benteng pertahanan dari tingkat keluarga dan desa.

“Pencegahan narkoba butuh peran bersama. Kami dari kepolisian siap berkolaborasi dalam edukasi, bahkan siap memfasilitasi pemeriksaan urine sebagai langkah deteksi dini di tingkat desa,” sebut Iptu Darmawan.

Di sisi penegakan hukum, Kasat Reskrim AKP I Made Kembar Mertadana memberikan apresiasi tinggi kepada warga Sukapura yang selama ini berhasil menjaga wilayahnya tetap kondusif. 

Terkait penyakit masyarakat seperti judi online dan miras, pihak Satreskrim tetap mengutamakan pembinaan dan edukasi hukum.

Sementara itu, Kasat Pam Obvit AKP Merdhania Pravita Shanty mengingatkan kembali bahwa Gunung Bromo memiliki nilai spiritual dan ekonomi yang tinggi bagi warga lokal, sehingga wajib dijaga bersama secara humanis.

“Bromo bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ruang hidup masyarakat Tengger. Mari kita sama-sama menjaga alam, maka alam akan menjaga kita,” pungkas AKP Vita. (*)

© Copyright 2024 Onenewsjatim | All Right Reserved