-->

12/09/2026


Probolinggo, (Onenewsjatim)-
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Kali ini, kebakaran terjadi di kawasan savana Blok Pengol yang berada di sekitar Bukit Teletubbies. Titik api mulai terlihat sejak Kamis (10/9/2026) sore.

Polres Probolinggo Polda Jawa Timur langsung menerjunkan personel gabungan untuk membantu proses pemadaman dan mencegah api meluas ke kawasan hutan di sekitarnya.

Kapolres Probolinggo AKBP Asmida Rizki Siregar mengatakan, penanganan karhutla membutuhkan respons cepat serta kerja sama lintas instansi.

“Kami akan terus bersinergi dengan seluruh stakeholder dalam penanganan karhutla. Bersama-sama kita lakukan upaya pemadaman dan pencegahan agar kebakaran tidak semakin meluas,” kata Rizki, Sabtu (12/9/2026).

Selain mengerahkan personel, Polres Probolinggo juga menggunakan armada yang telah dimodifikasi menjadi kendaraan tangki air.

Kendaraan tersebut memiliki kapasitas sekitar 1.000 liter dan digunakan untuk mendukung pasokan air bagi petugas pemadam, terutama di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan biasa.

Armada tersebut bergerak menuju titik-titik yang membutuhkan suplai air. Kondisi medan yang berada di kawasan perbukitan dan savana menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman.

Petugas juga harus menghadapi vegetasi yang relatif kering serta embusan angin yang berpotensi membuat api lebih cepat menjalar.

Personel gabungan dari kepolisian bersama instansi terkait dan relawan terus melakukan pemadaman, penyisiran, serta pemantauan di sekitar lokasi kebakaran.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada bara maupun titik api baru yang berpotensi kembali memicu kebakaran.

Di sisi lain, kepolisian juga meningkatkan patroli di kawasan wisata sekitar Gunung Bromo. Pengawasan dilakukan untuk mengantisipasi aktivitas masyarakat maupun wisatawan yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

Polres Probolinggo mengimbau wisatawan dan pelaku wisata mematuhi ketentuan pembatasan akses yang diberlakukan selama proses penanganan karhutla.

Masyarakat juga diminta tidak memaksakan diri memasuki kawasan terdampak sebelum dinyatakan aman dan dibuka kembali oleh otoritas berwenang.

Rizki mengingatkan masyarakat agar ikut menjaga kawasan TNBTS dan segera melaporkan apabila menemukan kepulan asap atau titik api.

“Peran aktif masyarakat sangat penting. Mari bersama-sama menjaga kawasan TNBTS dan segera melaporkan apabila menemukan titik api, sehingga dapat dilakukan penanganan sedini mungkin,” ujarnya.

Hingga Sabtu (12/9/2026), personel gabungan masih melakukan pemantauan dan penanganan di sejumlah titik untuk mencegah api kembali muncul dan meluas ke kawasan hutan.

11/09/2026

Kebakaran Kembali Melanda Kawasan Gunung Bromo, Petugas Berjibaku Padamkan Api


Probolinggo, (Onenewsjatim) 
– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di kawasan Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Kebakaran yang mulai terjadi sejak Kamis (10/9/2026) sore itu hingga Jumat (11/9/2026) masih dalam penanganan petugas gabungan. 

Informasi di lapangan menyebutkan, kobaran api di kawasan Blok Penggol, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, mulai meluas ke arah lembah Watangan atau yang dikenal masyarakat sebagai Bukit Teletubies.

Petugas gabungan dari TNBTS, BPBD, TNI-Polri dan relawan terus melakukan pemantauan sekaligus upaya pemadaman untuk mencegah api semakin meluas.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarif mengatakan, proses pemadaman menghadapi kendala karena lokasi kebakaran berada di kawasan dengan medan yang cukup ekstrem.

"Kebakaran terjadi di Blok Penggol, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura sejak Kamis sore hingga hari ini masih belum berhasil dipadamkan," kata Oemar Sjarif saat dihubungi melalui telepon seluler, Jumat (11/9/2026).

Menurut Oemar, salah satu kendala utama petugas adalah kondisi tebing yang curam sehingga tidak seluruh titik api dapat dijangkau secara langsung.

Selain itu, angin kencang membuat api lebih cepat menjalar, terutama pada kawasan yang ditumbuhi ilalang dan vegetasi kering.

"Petugas gabungan mengalami kendala karena area yang terbakar berada di tebing yang curam sehingga sulit dijangkau. Angin yang cukup kencang juga menyebabkan titik api lebih cepat menjalar ke area lain," ujarnya.

Untuk mengantisipasi api semakin meluas, petugas melakukan penyekatan dengan membuat sekat bakar di sejumlah lokasi yang dinilai berpotensi menjadi jalur penjalaran api.

Upaya tersebut dilakukan agar kobaran api tidak semakin mudah menjalar ke kawasan lain, terutama ke arah lembah.

"Petugas melakukan penyekatan. Namun angin cukup kencang sehingga memudahkan titik api menjalar ke ilalang kering. Penyekatan dilakukan agar api tidak menjalar ke tempat lain," jelasnya.

Oemar menambahkan, selain pemadaman secara manual, penanganan karhutla juga dilakukan dengan menggunakan helikopter water bombing milik BPBD Provinsi Jawa Timur.

Penggunaan helikopter menjadi salah satu opsi karena terdapat sejumlah titik api yang berada di tebing curam dan sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.

"Selain secara manual, upaya pemadaman juga dilakukan menggunakan helikopter atau water bombing dari BPBD Provinsi Jawa Timur," katanya.

Namun, upaya pemadaman dari udara juga tidak selalu berjalan optimal. Kondisi kabut yang turun di kawasan TNBTS menjadi salah satu kendala bagi helikopter untuk melakukan penyiraman dari udara.

Karena itu, petugas di lapangan masih terus menyesuaikan pola penanganan berdasarkan kondisi cuaca dan medan.

"Kabut terkadang menjadi kendala tersendiri bagi helikopter. Mudah-mudahan hari ini cuaca cerah sehingga pemadaman bisa lebih dioptimalkan, baik secara manual maupun melalui water bombing," tutur Oemar.

Sementara itu, petugas gabungan hingga Jumat masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik api di kawasan Bukit Penggol.

Pergerakan api yang dilaporkan mengarah ke kawasan lembah Watangan atau Bukit Teletubies menjadi perhatian petugas. Kondisi angin yang berubah-ubah membuat penyekatan harus terus dilakukan untuk menghambat penjalaran api.

Oemar memastikan upaya penanganan masih terus dilakukan bersama seluruh unsur yang terlibat. Petugas tidak hanya berupaya memadamkan titik api, tetapi juga mencegah kobaran menjalar lebih luas.

"Yang menjadi kendala adalah ketinggian dan kemiringan tebing yang sulit didaki serta angin yang cukup kencang. Karena itu, saat ini kami melakukan penyekatan-penyekatan supaya api tidak menjalar ke bawah dan meluas," pungkasnya. (Nur) 

Karhutla 72 Hektare di TN Meru Betiri Jember, Api Sempat Mendekati Permukiman Warga


Jember (Onenewsjatim)
– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) di wilayah Desa Curahnongko dan Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Kebakaran yang berlangsung sejak Selasa (8/9/2026) itu membakar sekitar 72 hektare kawasan hutan dan lahan. Petugas gabungan masih melakukan penanganan di sejumlah titik yang belum sepenuhnya padam.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Edy Budi Susilo mengatakan, kebakaran awalnya terjadi di bagian barat kawasan hutan Desa Curahnongko.

"Api diduga berasal dari wilayah barat kawasan hutan dan lahan Desa Curahnongko, kemudian menjalar dan membakar dedaunan kering, ilalang dan tanaman rambat di kawasan hutan," kata Edy, Jumat (11/9/2026).

Menurut Edy, kondisi angin yang cukup kencang membuat api sulit dikendalikan. Petugas gabungan harus melakukan pemadaman secara manual karena kondisi medan di kawasan hutan menyulitkan proses penanganan.

"Luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai 72 hektare. Faktor angin yang cukup kencang menjadi penyebab sulitnya api dipadamkan dengan peralatan manual yang dimiliki petugas gabungan," ujarnya.

Api Sempat Mendekati Permukiman

Kondisi karhutla sempat mengkhawatirkan warga pada Kamis (10/9/2026). Sekitar pukul 12.10 WIB, kobaran api diketahui telah mendekati permukiman warga Dusun Krajan, Desa Curahnongko.

Jarak api dengan permukiman diperkirakan hanya sekitar 100 meter.

Warga bersama petugas kemudian ikut berjibaku melakukan pemadaman secara manual untuk mencegah kobaran api semakin mendekati rumah penduduk.

"Faktor angin kencang membuat api semakin sulit dikendalikan. Bahkan titik api sudah mendekati permukiman warga dengan jarak sekitar 100 meter, sehingga warga agak panik dan ikut membantu petugas melakukan pemadaman secara manual," kata Edy.

Sekitar pukul 17.00 WIB, api yang berada di dekat permukiman berhasil dipadamkan.

Sekitar 30 menit kemudian, titik api kembali terlihat di kawasan hutan sebelah timur, tepatnya di wilayah Desa Andongrejo.

Edy mengatakan, petugas kemudian melanjutkan penanganan untuk mencegah api kembali meluas.

"Api sudah padam di wilayah barat kawasan hutan di Desa Curahnongko, sedangkan di wilayah timur kawasan hutan di Desa Andongrejo masih belum padam," jelasnya.

Asap Ganggu Warga

Selain ancaman kobaran api, asap karhutla juga mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Warga Dusun Krajan dilaporkan mengalami gangguan pernapasan dan mata terasa perih akibat paparan asap.

" Asap dari karhutla dikabarkan mengganggu pernapasan dan membuat mata perih warga Dusun Krajan, Desa Curahnongko. Sehingga petugas juga membagikan masker kepada warga," ujar Edy.

BPBD Jember mengerahkan personel Tim Reaksi Cepat (TRC) ke lokasi kebakaran untuk membantu proses pemadaman.

Personel TRC BPBD juga berkoordinasi dengan Tim Meru Betiri Resort Andongrejo dalam melakukan penanganan secara manual.

"Petugas TRC BPBD membantu Tim Meru Betiri Resort Andongrejo melakukan pemadaman secara manual dan membagikan masker kepada warga Desa Curahnongko," katanya.

Untuk mendukung proses pemadaman di wilayah Desa Andongrejo, BPBD Jember juga mengirimkan personel TRC ke lokasi.

Selain itu, BPBD berkoordinasi dengan Damkar Pos Ambulu untuk memberikan dukungan air bagi petugas yang melakukan penanganan karhutla.

Edy mengatakan petugas gabungan masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik api di kawasan TNMB.

Penanganan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi medan, arah angin dan potensi api kembali menjalar ke kawasan lain.

BPBD Jember juga mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak agar meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta menggunakan masker ketika asap berada di sekitar permukiman dan segera melaporkan jika kembali melihat titik api.

Hingga Jumat (11/9/2026), penanganan masih difokuskan pada titik api di kawasan hutan sebelah timur Desa Andongrejo. Sementara kawasan barat Desa Curahnongko dilaporkan telah berhasil dipadamkan.(imam) 

BPBD Lumajang Waspadai APG Semeru, 36 Juta Kubik Material Berpotensi Bergerak ke Timur


Lumajang, (Onenewsjatim
) - Tumpukan material vulkanik di kawasan puncak Gunung Semeru, Jawa Timur, diperkirakan mencapai sekitar 36 juta meter kubik. 

Material tersebut menjadi salah satu potensi bahaya yang terus dipantau karena dapat bergerak turun apabila terjadi aktivitas vulkanik maupun kondisi tertentu di kawasan puncak.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, S.Sos., mengatakan angka tersebut merupakan perkiraan material yang berpotensi mengalami pergerakan dari kawasan puncak Semeru.

"Kalau sekitar 36 juta kubik itu saja. Ini kira-kira bisa salah, bisa benar," kata Isnugroho.

Menurutnya, material yang berada di kawasan bukaan kawah Gunung Semeru berpotensi bergerak mengikuti kondisi lereng dan jalur aliran. Bukaan kawah yang berada di kawasan Jonggring Saloko diketahui mengarah ke tenggara.

Namun, BPBD Lumajang belum dapat memastikan secara keseluruhan volume material yang menumpuk di sepanjang lereng Semeru. Pemetaan secara lebih detail sebelumnya telah diminta kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tetapi terkendala kondisi cuaca.

"Itu yang ada, yang berpotensi untuk turun. Bukaan kawah mulai dari titik Kawah Jonggring Saloko itu mengarah ke tenggara," ujarnya.

"Kalau tumpukan material yang ada di lereng Semeru kita nggak bisa pastikan. Karena memang itu pernah saya request di PVMBG untuk dilakukan pemetaan drone, ternyata cuacanya berkabut, mendung," sambungnya.

Isnugroho menyebut endapan material vulkanik juga telah memenuhi sejumlah bagian jalur dari kawasan bukaan kawah. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam upaya mitigasi apabila sewaktu-waktu terjadi aliran material dalam jumlah besar.

"Endapan itu sudah memenuhi dari bukaan kawah hingga kilometer 2.000. Itu sudah dipatahkan, sudah penuh," katanya. 

BPBD Lumajang telah melakukan mitigasi bersama sejumlah pihak untuk memetakan kemungkinan arah aliran material apabila terjadi banjir lahar maupun awan panas guguran (APG).

Untuk potensi banjir lahar, Isnugroho mengatakan jalur Curah Kobokan menjadi salah satu kawasan yang diprioritaskan. Infrastruktur pengendali aliran di kawasan tersebut juga terus diperkuat.

"Kalau terjadi banjir lahar, kemarin kita mitigasi bersama kawan-kawan di pos. Kemungkinan untuk lari ke Sumbersari atau ke Besuk Kembar, Pronojiwo itu kecil," jelasnya.

Menurutnya, perbaikan daerah aliran sungai di Curah Kobokan yang dilakukan melalui pembangunan sabuk dam membuat jalur tersebut dinilai lebih mampu menampung aliran material.

"Kemungkinannya cuma satu kalau terjadi lahar dingin turun, itu larinya ke DAS Curah Kobokan," imbuhnya.

Isnugroho menyebut kawasan Curah Kobokan saat ini memiliki kapasitas tampung material yang cukup besar. Bahkan, kedalaman kawasan aliran tersebut disebut mencapai sekitar 40 meter.

"Untuk di Curah Kobokan sangat-sangat menampung. Itu kedalamannya ada kalau 40 meter. Kalau aliran laharnya ke sana, material vulkaniknya bisa ditampung," katanya.

Waspadai Potensi APG Mengarah ke Timur

Sementara itu, skenario berbeda perlu diwaspadai apabila terjadi awan panas guguran dalam skala besar. Selain menuju DAS Curah Kobokan, material berpotensi bergerak ke arah timur apabila jalur aliran di kawasan bukaan kawah terbuka.

"Apabila terjadi APG, kemungkinan yang kedua selain DAS Kobokan, lari ke timur. Ke timur itu karena sudah ada endapan-endapan yang numpuk di bukaan kawah," terang Isnugroho.

Jika jalur tersebut terbuka, aliran material berpotensi mengarah ke kawasan Kebon Seket, Desa Sumbermujur, hingga Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro.

"Sehingga dimungkinkan kalau jalan itu terbuka, larinya Kebon Seket, Desa Sumbermujur, Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro. Nah, ini yang perlu kita waspadai," ujarnya.

Untuk memperkuat mitigasi, pembangunan tanggul di kawasan timur Gladak Perak juga terus dilakukan. Saat ini ketinggian tanggul disebut telah mencapai sekitar 10 meter.

"Yang ada di timur Gladak Perak itu tanggulnya juga sudah setinggi 10 meter sudah terbangun," kata Isnugroho.

Pembangunan tersebut ditargetkan selesai pada 2027 apabila tidak terdapat kendala maupun bencana alam yang menghambat pekerjaan.

"Nanti perkiraannya 2027 itu selesai apabila tidak ada kendala atau bencana alam. 2027 bisa selesai," tambahnya.

Di tengah potensi bahaya tersebut, BPBD Lumajang memastikan pemantauan aktivitas Gunung Semeru dilakukan secara berkelanjutan. Petugas disiagakan selama 24 jam dengan sistem pergantian.

"Jadi kami BPBD 1x24 jam pergantian memantau terus," tegas Isnugroho.

BPBD juga mengingatkan masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana agar tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Semeru.

Sejumlah sistem peringatan dini juga telah disiapkan. Sirene berada di kawasan Curah Kobokan, Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, serta Bukit Padat, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo.

Selain sirene, masyarakat di kawasan Supiturang dan Oro-Oro Ombo juga dapat memanfaatkan aplikasi peringatan dini yang tersedia untuk mendapatkan informasi terkait potensi bahaya.

Isnugroho meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak jelas sumbernya, terutama kabar mengenai erupsi Gunung Semeru yang beredar di media sosial.

Erupsi Semeru Terjadi Setiap Hari


BPBD Lumajang juga meluruskan pemahaman masyarakat mengenai istilah erupsi dan awan panas guguran. Menurut Isnugroho, erupsi tidak selalu berarti letusan besar.

"Erupsi itu setiap hari ada. Jadi erupsi itu apapun yang keluar dari perut gunung sampai ke bukaan kawah, baik itu letusan, embusan, guguran, lontaran material, lava pijar, itu dikatakan erupsi," jelasnya.

Sedangkan awan panas guguran atau APG merupakan salah satu bentuk erupsi dengan skala bahaya yang lebih besar karena membawa material panas yang bergerak menuruni lereng.

"APG salah satu bentuk erupsi. Hanya APG ini skalanya lebih besar karena ada awan panas guguran," ujarnya.

Ia juga menjelaskan istilah kegempaan yang kerap muncul dalam laporan aktivitas Gunung Semeru. Kegempaan berkaitan dengan aktivitas seismik di dalam gunung, termasuk gempa tektonik jauh, vulkanik dalam, hingga tremor.

"Kalau kegempaan itu menyangkut ukuran kekuatan seismik. Di dalamnya ada tektonik jauh, ada vulkanik dalam, ada tremor. Itu bahasa-bahasa kegempaan," pungkasnya.

Gotong Royong Bersama Warga, Babinsa Bades Turun Langsung Bangun Musala Al Ikhlas


Lumajang, (Onenewsjatim)-
Dalam upaya memperkuat kebersamaan dan semangat gotong royong bersama masyarakat, Babinsa Bades Koramil 0821-08/Pasirian Sertu Muhamad Rochim turut terjun langsung dalam kerja bakti pembangunan Musala Al Ikhlas di Dusun Siluman RT 001 RW 004, Desa Bades, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Jumat (11/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian Babinsa terhadap pembangunan sarana ibadah sekaligus bagian dari upaya menjalin kedekatan dengan masyarakat di wilayah binaannya. Bersama warga, Sertu Muhamad Rochim bahu-membahu mengerjakan pembangunan musala dengan penuh semangat dan kebersamaan.

Kehadiran Babinsa dalam kegiatan tersebut tidak hanya membantu proses pembangunan secara fisik, tetapi juga mendorong tumbuhnya semangat gotong royong di tengah masyarakat. 

Melalui kerja bersama, pembangunan Musala Al Ikhlas diharapkan dapat berjalan dengan lancar sehingga nantinya mampu memberikan manfaat bagi warga sebagai tempat beribadah dan kegiatan keagamaan.

Babinsa Bades Sertu Muhamad Rochim menyampaikan bahwa keterlibatannya dalam pembangunan musala merupakan bentuk kepedulian dan upaya untuk terus membangun komunikasi serta kebersamaan dengan masyarakat.

“Gotong royong seperti ini merupakan bagian dari kebersamaan antara Babinsa dan masyarakat. Selain membantu pembangunan sarana ibadah, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan serta menumbuhkan kepedulian warga terhadap pembangunan di lingkungannya,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dusun Siluman Muhammad Supriadi menyampaikan bahwa pembangunan Musala Al Ikhlas dapat terlaksana dengan adanya dukungan dan partisipasi masyarakat. Menurutnya, keterlibatan warga secara bersama-sama menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan sarana ibadah yang dibutuhkan masyarakat.

“Pembangunan musala ini merupakan kepentingan bersama, sehingga partisipasi warga sangat kami harapkan. Dengan semangat gotong royong dan dukungan Babinsa, pekerjaan dapat dilakukan secara bersama-sama sehingga pembangunan bisa terus berjalan,” pungkasnya.

Ia menambahkan, kebersamaan yang terjalin dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat terus dipertahankan, tidak hanya dalam pembangunan musala, tetapi juga dalam berbagai kegiatan sosial dan pembangunan lainnya di lingkungan Dusun Siluman.

Melalui kegiatan kerja bakti tersebut, sinergi dan kebersamaan diharapkan semakin kuat. Semangat gotong royong yang ditunjukkan warga juga menjadi modal penting dalam mendukung pembangunan fasilitas umum sekaligus memperkokoh kemanunggalan Babinsa dan warga binaan di lingkungan Dusun Siluman. (Pendim0821)

Dandim 0821 Lumajang Sambut Ketua PHDI, Bahas Kerukunan dan Kepedulian Sosial


Lumajang, (Onenewsjatim) –
Upaya memperkuat kerukunan antarumat beragama dan kepedulian terhadap masyarakat terus dilakukan Kodim 0821/Lumajang.

Hal itu terlihat dalam pertemuan antara Dandim 0821/Lumajang Letkol Arh Anton Subhandi, S.A.P., M.I.P., dengan Ketua Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Lumajang Teguh Widodo di Makodim 0821/Lumajang, Jumat (11/9/2026).

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana akrab. Selain menjadi ajang silaturahmi, pertemuan itu juga menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi antara TNI dan tokoh agama di Kabupaten Lumajang.

Sejumlah hal dibahas, terutama mengenai pentingnya menjaga persatuan, toleransi dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Dandim 0821/Lumajang Letkol Arh Anton Subhandi mengatakan, perbedaan agama tidak seharusnya menjadi penghalang bagi masyarakat untuk membangun kebersamaan.

Menurut dia, kerukunan antarumat beragama harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya melalui kegiatan sosial, gotong royong dan kepedulian terhadap warga yang membutuhkan.

“Silaturahmi seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi dan kebersamaan. Perbedaan agama bukan menjadi penghalang untuk bersatu, tetapi justru menjadi kekuatan untuk bersama-sama memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Anton.

Ia menilai, hubungan yang baik antara TNI, tokoh agama dan masyarakat dapat menjadi modal penting dalam menjaga kondisi wilayah tetap aman dan kondusif.

Komunikasi lintas elemen juga dinilai penting untuk mencegah munculnya persoalan sosial yang berpotensi mengganggu kerukunan masyarakat.

“Sinergi antara TNI, tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat sangat penting. Dengan komunikasi yang baik, berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat bisa diantisipasi sejak dini,” ujarnya.

Dorong Kegiatan yang Menyentuh Masyarakat

Anton mengatakan, pihaknya tidak ingin silaturahmi lintas elemen berhenti pada komunikasi semata. Hubungan tersebut diharapkan dapat diterjemahkan dalam kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Menurutnya, berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan dapat menjadi sarana untuk memperkuat persaudaraan sekaligus membangun kepedulian di tengah masyarakat.

“Kami berharap hubungan baik antara Kodim 0821/Lumajang dengan PHDI terus terpelihara dan dapat diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan yang menyentuh langsung kepentingan masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, keberadaan TNI bersama tokoh agama dan elemen masyarakat harus mampu memberikan rasa aman sekaligus manfaat nyata bagi warga.

“Kehadiran kita harus mampu memberikan rasa aman, kepedulian dan manfaat bagi warga,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua PHDI Kabupaten Lumajang Teguh Widodo menyambut baik komunikasi dan sinergi yang dibangun bersama Kodim 0821/Lumajang.

Menurut Teguh, kerja sama lintas elemen diperlukan untuk menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat di Kabupaten Lumajang.

Ia menilai, kolaborasi antara aparat, tokoh agama dan masyarakat dapat menjadi kekuatan untuk mendorong berbagai kegiatan positif di lingkungan masing-masing.

Silaturahmi tersebut diharapkan tidak hanya mempererat hubungan kelembagaan, tetapi juga semakin memperkuat semangat toleransi, gotong royong dan kepedulian sosial di Kabupaten Lumajang.

Dengan terjalinnya komunikasi yang baik antarelemen, berbagai persoalan di tengah masyarakat diharapkan dapat dihadapi secara bersama-sama dan mengedepankan semangat persatuan.

Kodim 0821/Lumajang pun menegaskan komitmennya untuk terus membangun komunikasi dengan seluruh komponen masyarakat, termasuk tokoh agama, sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas wilayah sekaligus mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis.

(Pendim 0821)

Kenalkan Rambu dan Pentingnya Helm, Satlantas Lumajang Edukasi Pelajar TK/SD


Lumajang, (Onenewsjatim)-
Edukasi keselamatan berlalu lintas tidak harus menunggu seseorang memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Kesadaran tertib lalu lintas justru perlu ditanamkan sejak usia dini.

Hal itu dilakukan Unit Keamanan dan Keselamatan (Kamsel) Satlantas Polres Lumajang melalui program Polisi Sahabat Anak. Kali ini, sejumlah peserta didik TK/SD Alethea Lumajang mendapat edukasi keselamatan berlalu lintas saat berkunjung ke Kantor Satlantas Polres Lumajang, Jumat (11/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, peserta didik diajak mengenal berbagai aturan dasar berlalu lintas dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami anak-anak.

Anggota Unit Kamsel Satlantas Polres Lumajang, Aiptu Rima Mayangga Rivasari, menjadi salah satu petugas yang memberikan edukasi kepada para peserta didik.

Rima mengenalkan sejumlah rambu-rambu lalu lintas sekaligus menjelaskan makna dan fungsi rambu tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya keselamatan ketika menjadi penumpang sepeda motor.

Salah satunya dengan menggunakan helm yang sesuai dan dipasang secara benar ketika dibonceng orangtua maupun orang dewasa.

“Edukasi tertib lalu lintas ini kami berikan sejak dini agar anak-anak memahami bahwa keselamatan merupakan hal yang paling utama saat berada di jalan,” kata Rima.

Menurutnya, anak-anak merupakan bagian penting dalam upaya membangun budaya tertib berlalu lintas di masyarakat.

Meski belum diperbolehkan mengendarai kendaraan bermotor sendiri, mereka perlu mengetahui aturan dasar keselamatan. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan ketika mereka menjadi pejalan kaki maupun penumpang kendaraan.

“Harapannya, anak-anak bisa memahami pentingnya menggunakan helm dengan baik dan benar serta mengenal rambu-rambu lalu lintas. Mereka juga bisa mengingatkan orangtuanya untuk selalu mengutamakan keselamatan,” ujarnya.

Dikenalkan Mekanisme Penerbitan SIM

Selain mengenalkan rambu lalu lintas dan keselamatan berkendara, petugas juga memberikan gambaran mengenai tata cara dan mekanisme penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM).

Pengenalan tersebut dilakukan sebagai bagian dari edukasi agar anak-anak mengetahui bahwa setiap pengendara kendaraan bermotor harus memenuhi persyaratan dan memiliki kemampuan berkendara sebelum mendapatkan SIM.

Suasana edukasi dibuat interaktif sehingga peserta didik tidak hanya mendengarkan penjelasan petugas, tetapi juga diajak berkomunikasi mengenai berbagai situasi yang mereka temui di jalan.

Dalam kesempatan tersebut, Unit Kamsel Satlantas Polres Lumajang juga membagikan brosur imbauan tertib lalu lintas kepada kepala sekolah dan guru.

Brosur tersebut diharapkan dapat menjadi bahan edukasi lanjutan di lingkungan sekolah maupun disampaikan kembali kepada orangtua peserta didik.

Rima mengatakan, keselamatan berlalu lintas merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, edukasi tidak hanya menyasar pengendara, tetapi juga lingkungan keluarga dan sekolah.

“Sekolah dan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan anak. Ketika sejak kecil sudah dibiasakan tertib dan mengutamakan keselamatan, diharapkan kebiasaan tersebut terbawa sampai mereka dewasa,” katanya.

Kegiatan Polisi Sahabat Anak ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Satlantas Polres Lumajang menekan angka pelanggaran lalu lintas dan meminimalkan fatalitas korban kecelakaan.

Edukasi secara berkelanjutan diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat untuk lebih disiplin dalam berlalu lintas.

Dengan meningkatnya pemahaman sejak usia dini, Satlantas Polres Lumajang berharap tercipta budaya keselamatan di jalan sekaligus mendukung terwujudnya keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas) yang kondusif di Kabupaten Lumajang.

Bagi para peserta didik, kunjungan tersebut bukan sekadar mengenal tugas polisi. Mereka juga mendapat pelajaran penting bahwa tertib berlalu lintas merupakan bagian dari menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain.

© Copyright 2024 Onenewsjatim | All Right Reserved