Lumajang, (Onenewsjatim) - Tumpukan material vulkanik di kawasan puncak Gunung Semeru, Jawa Timur, diperkirakan mencapai sekitar 36 juta meter kubik.
Material tersebut menjadi salah satu potensi bahaya yang terus dipantau karena dapat bergerak turun apabila terjadi aktivitas vulkanik maupun kondisi tertentu di kawasan puncak.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, S.Sos., mengatakan angka tersebut merupakan perkiraan material yang berpotensi mengalami pergerakan dari kawasan puncak Semeru.
"Kalau sekitar 36 juta kubik itu saja. Ini kira-kira bisa salah, bisa benar," kata Isnugroho.
Menurutnya, material yang berada di kawasan bukaan kawah Gunung Semeru berpotensi bergerak mengikuti kondisi lereng dan jalur aliran. Bukaan kawah yang berada di kawasan Jonggring Saloko diketahui mengarah ke tenggara.
Namun, BPBD Lumajang belum dapat memastikan secara keseluruhan volume material yang menumpuk di sepanjang lereng Semeru. Pemetaan secara lebih detail sebelumnya telah diminta kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tetapi terkendala kondisi cuaca.
"Itu yang ada, yang berpotensi untuk turun. Bukaan kawah mulai dari titik Kawah Jonggring Saloko itu mengarah ke tenggara," ujarnya.
"Kalau tumpukan material yang ada di lereng Semeru kita nggak bisa pastikan. Karena memang itu pernah saya request di PVMBG untuk dilakukan pemetaan drone, ternyata cuacanya berkabut, mendung," sambungnya.
Isnugroho menyebut endapan material vulkanik juga telah memenuhi sejumlah bagian jalur dari kawasan bukaan kawah. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam upaya mitigasi apabila sewaktu-waktu terjadi aliran material dalam jumlah besar.
"Endapan itu sudah memenuhi dari bukaan kawah hingga kilometer 2.000. Itu sudah dipatahkan, sudah penuh," katanya.
BPBD Lumajang telah melakukan mitigasi bersama sejumlah pihak untuk memetakan kemungkinan arah aliran material apabila terjadi banjir lahar maupun awan panas guguran (APG).
Untuk potensi banjir lahar, Isnugroho mengatakan jalur Curah Kobokan menjadi salah satu kawasan yang diprioritaskan. Infrastruktur pengendali aliran di kawasan tersebut juga terus diperkuat.
"Kalau terjadi banjir lahar, kemarin kita mitigasi bersama kawan-kawan di pos. Kemungkinan untuk lari ke Sumbersari atau ke Besuk Kembar, Pronojiwo itu kecil," jelasnya.
Menurutnya, perbaikan daerah aliran sungai di Curah Kobokan yang dilakukan melalui pembangunan sabuk dam membuat jalur tersebut dinilai lebih mampu menampung aliran material.
"Kemungkinannya cuma satu kalau terjadi lahar dingin turun, itu larinya ke DAS Curah Kobokan," imbuhnya.
Isnugroho menyebut kawasan Curah Kobokan saat ini memiliki kapasitas tampung material yang cukup besar. Bahkan, kedalaman kawasan aliran tersebut disebut mencapai sekitar 40 meter.
"Untuk di Curah Kobokan sangat-sangat menampung. Itu kedalamannya ada kalau 40 meter. Kalau aliran laharnya ke sana, material vulkaniknya bisa ditampung," katanya.
Waspadai Potensi APG Mengarah ke Timur
Sementara itu, skenario berbeda perlu diwaspadai apabila terjadi awan panas guguran dalam skala besar. Selain menuju DAS Curah Kobokan, material berpotensi bergerak ke arah timur apabila jalur aliran di kawasan bukaan kawah terbuka.
"Apabila terjadi APG, kemungkinan yang kedua selain DAS Kobokan, lari ke timur. Ke timur itu karena sudah ada endapan-endapan yang numpuk di bukaan kawah," terang Isnugroho.
Jika jalur tersebut terbuka, aliran material berpotensi mengarah ke kawasan Kebon Seket, Desa Sumbermujur, hingga Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro.
"Sehingga dimungkinkan kalau jalan itu terbuka, larinya Kebon Seket, Desa Sumbermujur, Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro. Nah, ini yang perlu kita waspadai," ujarnya.
Untuk memperkuat mitigasi, pembangunan tanggul di kawasan timur Gladak Perak juga terus dilakukan. Saat ini ketinggian tanggul disebut telah mencapai sekitar 10 meter.
"Yang ada di timur Gladak Perak itu tanggulnya juga sudah setinggi 10 meter sudah terbangun," kata Isnugroho.
Pembangunan tersebut ditargetkan selesai pada 2027 apabila tidak terdapat kendala maupun bencana alam yang menghambat pekerjaan.
"Nanti perkiraannya 2027 itu selesai apabila tidak ada kendala atau bencana alam. 2027 bisa selesai," tambahnya.
Di tengah potensi bahaya tersebut, BPBD Lumajang memastikan pemantauan aktivitas Gunung Semeru dilakukan secara berkelanjutan. Petugas disiagakan selama 24 jam dengan sistem pergantian.
"Jadi kami BPBD 1x24 jam pergantian memantau terus," tegas Isnugroho.
BPBD juga mengingatkan masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana agar tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Semeru.
Sejumlah sistem peringatan dini juga telah disiapkan. Sirene berada di kawasan Curah Kobokan, Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, serta Bukit Padat, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo.
Selain sirene, masyarakat di kawasan Supiturang dan Oro-Oro Ombo juga dapat memanfaatkan aplikasi peringatan dini yang tersedia untuk mendapatkan informasi terkait potensi bahaya.
Isnugroho meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak jelas sumbernya, terutama kabar mengenai erupsi Gunung Semeru yang beredar di media sosial.
Erupsi Semeru Terjadi Setiap Hari
BPBD Lumajang juga meluruskan pemahaman masyarakat mengenai istilah erupsi dan awan panas guguran. Menurut Isnugroho, erupsi tidak selalu berarti letusan besar.
"Erupsi itu setiap hari ada. Jadi erupsi itu apapun yang keluar dari perut gunung sampai ke bukaan kawah, baik itu letusan, embusan, guguran, lontaran material, lava pijar, itu dikatakan erupsi," jelasnya.
Sedangkan awan panas guguran atau APG merupakan salah satu bentuk erupsi dengan skala bahaya yang lebih besar karena membawa material panas yang bergerak menuruni lereng.
"APG salah satu bentuk erupsi. Hanya APG ini skalanya lebih besar karena ada awan panas guguran," ujarnya.
Ia juga menjelaskan istilah kegempaan yang kerap muncul dalam laporan aktivitas Gunung Semeru. Kegempaan berkaitan dengan aktivitas seismik di dalam gunung, termasuk gempa tektonik jauh, vulkanik dalam, hingga tremor.
"Kalau kegempaan itu menyangkut ukuran kekuatan seismik. Di dalamnya ada tektonik jauh, ada vulkanik dalam, ada tremor. Itu bahasa-bahasa kegempaan," pungkasnya.


FOLLOW THE Onenewsjatim AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Onenewsjatim on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram