 |
| Foto ilustrasi (pakai Ai) |
Lampung, (Onenewsjatim) – Musim hujan yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim menjadi perhatian serius di sektor kesehatan.
Salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat adalah meningkatnya ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya keterkaitan erat antara perubahan iklim dan peningkatan kasus DBD. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal PLoS Neglected Tropical Diseases oleh Ryan et al. (2021) mengungkapkan bahwa curah hujan tinggi yang disertai peningkatan suhu dan kelembapan menciptakan kondisi ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak.
Hal senada juga disampaikan dalam penelitian The Association Between Dengue Case and Climate: A Systematic Review and Meta-analysis yang menyebutkan bahwa perubahan iklim berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kasus DBD.
Kasus DBD umumnya meningkat saat dan setelah puncak musim hujan, terutama akibat banyaknya genangan air di lingkungan sekitar.
Genangan air di sekitar rumah, selokan yang tersumbat, serta tempat penampungan air yang tidak tertutup rapat menjadi lokasi favorit nyamuk untuk bertelur.
Selain itu, perubahan iklim global menyebabkan musim hujan berlangsung lebih lama, sehingga risiko penularan DBD semakin besar.
Tak hanya meningkatkan jumlah kasus, perubahan iklim juga memperluas wilayah penyebaran nyamuk pembawa virus dengue, termasuk ke daerah yang sebelumnya jarang terdampak. Suhu yang lebih hangat membuat siklus hidup nyamuk berlangsung lebih cepat dan meningkatkan potensi penularan penyakit ke manusia.
Di tingkat nasional, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat lonjakan signifikan kasus DBD. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2024, sepanjang tahun 2024 tercatat sebanyak 257.271 kasus DBD dengan 1.461 kematian. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 2023 yang mencatat 114.720 kasus dengan 894 kematian.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu diwaspadai setiap tahun, terutama saat musim hujan. Oleh karena itu, upaya pencegahan terus digencarkan melalui pengendalian berbasis lingkungan.
Pengendalian DBD dilakukan melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas. Langkah tambahan meliputi penggunaan larvasida dan perbaikan sistem drainase agar tidak menimbulkan genangan air.
Larvasida berfungsi membasmi jentik nyamuk pada tempat air yang sulit dikuras, seperti bak mandi atau toren air, sehingga mencegah jentik berkembang menjadi nyamuk dewasa.
Sementara itu, perbaikan drainase bertujuan menjaga saluran air tetap bersih dan lancar.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga disarankan menggunakan perlindungan tambahan seperti kelambu saat tidur, obat anti nyamuk, serta alat pengusir nyamuk elektrik.
Langkah ini dinilai efektif mengurangi risiko gigitan nyamuk, terutama pada pagi dan sore hari saat nyamuk Aedes paling aktif, sebagaimana direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam pencegahan DBD. Kementerian Kesehatan RI terus menggalakkan Gerakan Satu Rumah Satu Juru Pemantau Jentik (G1R1J) agar pemantauan jentik nyamuk dapat dilakukan secara mandiri di setiap rumah.
Dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan secara rutin, risiko penularan DBD diharapkan dapat ditekan. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada selama musim hujan demi melindungi diri dan keluarga dari ancaman penyakit DBD.
Daftar Pustaka:
Abdulah, et all. 2025. The association between dengue case and climate: A systematic review and meta-analysis. journal homepage: www.elsevier.com/locate/onehlt
Ebi, K. L., & Hess, J. J. (2023). Health risks due to climate change: Inequity in causes and consequences.Health Affairs, 42(12), 1812–1819. https://www.healthaffairs.org/doi/10.1377/hlthaff.2023.00778
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, 14 November). Waspada Penyakit di Musim Hujan. Diakses melalui: https://kemkes.go.id/id/waspada-penyakit-di-musim-hujan
Kementerian Kesehatan RI. (2024). 5 Langkah Sehat Terhindar dari DBD selama Musim Hujan. Portal Ayosehat. Diakses melalui: https://ayosehat.kemkes.go.id/5-langkah-sehat-terhindar-dari-dbd-selama-musim-hujan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025).
Profil Kesehatan Indonesia 2024. Diakses melaui: https://kemkes.go.id/id/profil-kesehatan-indonesia-2024
Ryan, S. J., Carlson, C. J., Mordecai, E. A., & Johnson, L. R. (2021).
Global expansion and redistribution of Aedes-borne virus transmission risk with climate change. PLoS Neglected Tropical Diseases, 15(3), e0009130.
https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0009130World Health Organization. (2023).
Dengue and severe dengue – Fact sheet. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue
Penulis: Audria Octa A.W.L, Amd.Keb., S.KM.
Editor: Imam
FOLLOW THE Onenewsjatim AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Onenewsjatim on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram