Lumajang , (Onenewsjatim) – Aktivitas penambangan pasir di kawasan aliran lahar Gunung Semeru memakan korban.
Seorang penambang pasir bernama Veri Irawan (33), warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, mengalami luka bakar serius setelah tertimbun material panas sisa awan panas guguran (APG) Gunung Semeru di sekitar Jembatan Gladak Perak, Sabtu (20/6/2026) dini hari.
Korban diketahui berangkat menambang bersama belasan rekannya pada malam hari. Saat melakukan aktivitas penambangan manual di bawah kawasan Gladak Perak, tumpukan material pasir yang masih menyimpan suhu panas tinggi tiba-tiba longsor dan menimpa tubuh korban.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengatakan peristiwa itu terjadi ketika korban sedang bekerja di area penambangan yang berada di jalur material vulkanik Semeru.
"Korban bersama sekitar 16 rekannya melakukan aktivitas penambangan pasir secara manual. Saat aktivitas berlangsung, tebing pasir di dekat lokasi korban bekerja tiba-tiba ambrol dan menimpa tubuhnya," kata Isnugroho.
Menurutnya, rekan-rekan korban segera melakukan pertolongan dan mengevakuasi Veri ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Sementara itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati yang bersama Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma menjenguk korban di RSUD dr Haryoto Lumajang menyebut kondisi korban sangat memprihatinkan.
Awalnya, laporan yang diterimanya menyebut korban mengalami luka bakar sekitar 43 persen. Namun setelah dilakukan pemeriksaan dan tindakan operasi, luas luka bakar yang dialami korban ternyata mencapai sekitar 80 persen dari tubuhnya.
"Artinya hampir seluruh tubuhnya mengalami luka bakar. Penanganan terbaik sudah dilakukan oleh tim medis, termasuk pembersihan luka di ruang operasi. Sekarang yang harus dijaga adalah kondisi pasien agar tetap stabil dan tidak terjadi infeksi," ujar Indah.
Ia menegaskan, kejadian tersebut harus menjadi pelajaran bagi masyarakat, khususnya para penambang yang beraktivitas di kawasan rawan bencana Gunung Semeru.
Pemerintah Kabupaten Lumajang, lanjutnya, telah berulang kali mengeluarkan surat edaran yang melarang aktivitas masyarakat di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan dalam radius tertentu dari puncak Semeru, termasuk larangan beraktivitas di sempadan sungai yang berpotensi dilalui material panas maupun banjir lahar.
"Kami juga selalu mengingatkan agar tidak ada aktivitas penambangan setelah pukul 18.00 WIB. Namun masih ditemukan beberapa penambang yang bekerja pada malam hari. Padahal risiko di kawasan ini sangat tinggi karena masih banyak material vulkanik panas yang dapat terbawa hujan maupun mengalami longsoran," katanya.
Di sisi lain, Wakil Direktur RSUD dr Haryoto Lumajang, dr Wawan Arwijanto, menjelaskan korban saat ini menjalani perawatan intensif karena mengalami luka bakar sangat luas dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.
"Korban sudah mendapatkan penanganan awal, operasi pembersihan luka bakar, pemasangan akses cairan, serta tindakan untuk membantu pernapasan. Luka bakar yang dialami mencapai lebih dari 80 persen, sehingga kondisi pasien saat ini sangat kritis," ujar Wawan.
Menurut dia, risiko yang dihadapi korban tidak hanya pada kerusakan kulit, tetapi juga kemungkinan gangguan pada saluran pernapasan akibat menghirup udara panas, gangguan fungsi ginjal karena kehilangan cairan, serta infeksi.
"Kami akan memberikan penanganan maksimal. Mohon doa dari masyarakat agar kondisi pasien bisa bertahan dan membaik," katanya.
Pemerintah Kabupaten Lumajang memastikan seluruh biaya perawatan korban ditanggung pemerintah melalui program bantuan kesehatan bagi korban bencana.









FOLLOW THE Onenewsjatim AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Onenewsjatim on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram