
Foto ilustrasi menggunakan AI
Lumajang, (Onenewsjatim) – Wali murid kelas 9C SMP Negeri 5 Lumajang, Sri Diana, menyampaikan keluhan terkait kebijakan salah satu guru agama yang memerintahkan seluruh siswa mengulang penulisan tugas satu bab penuh, meski tugas tersebut telah dikerjakan dan dikumpulkan sesuai waktu yang ditentukan.
Sri Diana menjelaskan, permasalahan bermula ketika siswa mendapat tugas mencatat materi satu bab dengan ketentuan menghabiskan sekitar tiga hingga empat lembar kertas double folio bolak-balik. Tugas tersebut dikerjakan selama satu minggu sesuai instruksi guru.
“Sebagai orang tua, saya tidak mempermasalahkan tugas mencatat satu bab. Itu bagian dari proses pembelajaran,” ujar Sri Diana.
Namun, saat tugas hendak dikumpulkan pada hari Senin, guru yang bersangkutan menolak menerima tugas tersebut dan meminta seluruh siswa kelas 9C menulis ulang dari awal. Alasan penolakan karena tugas tidak dilubangi (diplong) dan tidak dimasukkan ke dalam map.
Menurut Sri Diana, keputusan tersebut disayangkan karena guru belum membaca maupun mengoreksi isi tugas siswa.
“Anak-anak langsung disuruh mengulang, padahal tugas sudah dikerjakan selama seminggu penuh,” katanya.
Ia mempertanyakan kejelasan instruksi di awal pemberian tugas. Menurutnya, tidak logis jika seluruh siswa dalam satu kelas melakukan kesalahan yang sama apabila ketentuan melubangi kertas dan menggunakan map telah disampaikan sejak awal.
“Kalau memang dari awal diwajibkan diplong dan dimasukkan ke map, rasanya tidak mungkin satu kelas melakukan kesalahan yang sama,” ujarnya.
Sri Diana mengaku telah mengonfirmasi permasalahan tersebut kepada pihak kepala sekolah. Namun, ia mendapat penjelasan bahwa kebijakan mengulang tugas dianggap sebagai bagian dari tujuan pembelajaran dan disebut sebagai bentuk hukuman
“Prinsip Dalam pembelajaran Mendalam , tidak ada konsep hukuman. Prinsipnya adalah Berkesadaan , bermakna, dan menggembirakan, ” katanya.
Ia menilai pendekatan tersebut tidak sejalan dengan prinsip pembelajaran yang menekankan kesadaran, kebermaknaan, dan suasana belajar yang menyenangkan.
“Faktanya, anak-anak justru merasa stres, kelelahan, bahkan ada yang menangis,” ungkapnya.
Menurut Sri Diana, persoalan utama bukan pada tugas mencatat, melainkan pada keputusan untuk mengulang seluruh tugas tanpa koreksi terlebih dahulu.
Ia menilai solusi bisa dilakukan dengan meminta siswa melengkapi administrasi tugas tanpa harus menulis ulang keseluruhan isi.
Sri Diana berharap pihak sekolah dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan agar tidak berdampak pada kondisi psikologis siswa.
“Jika terjadi miskomunikasi, seharusnya bisa diklarifikasi bersama, bukan langsung membebani siswa dengan tugas ulang,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak Kepala SMP Negeri 5 Lumajang belum memberikan keterangan resmi saat dimintai konfirmasi.(Imam).
Editor: Ayu


FOLLOW THE Onenewsjatim AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Onenewsjatim on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram