![]() |
| polisi melakukan olah TKP di rumah kades Pakel |
Lumajang, (Onenewsjatim) – Kepala Desa (Kades) Pakel, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur menjadi korban pengeroyokan dan pembacokan oleh belasan orang tak dikenal. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (15/4/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Akibat kejadian itu, korban mengalami luka di bagian kepala dan bahu kanan akibat sabetan senjata tajam. Sempat menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi Sampurno kini berangsur pulih.
Saat ditemui di kediamannya, Sampurno tampak tegar meski masih dalam masa pemulihan. Ia juga menerima sejumlah warga yang datang menjenguk dan memberikan dukungan moril.
Kepada wartawan, Sampurno menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya. Ia menyebut, peristiwa bermula dari persoalan pribadi terkait rencana peminjaman uang kepada seseorang bernama Dani.
“Awalnya saya mengajak istri dan cucu ke rumah Dani untuk pinjam uang karena dia bilang ada dana. Saya sudah bawa lima sertifikat dan buah durian sebagai buah tangan. Tapi sampai di sana, dia bilang sakit dan tidak mau menemui. Saya merasa malu dan disepelekan,” ungkapnya.
Ketegangan berlanjut ketika keduanya kembali bertemu dalam sebuah pengajian di wilayah Kecamatan Ranuyoso pada 14 April 2026. Dalam pertemuan itu, Sampurno mengaku sempat menegur Dani.
“Saya marahi, karena menurut saya tidak baik meremehkan orang kecil. Saya hanya mengingatkan,” katanya.
Namun, teguran tersebut diduga memicu kemarahan pihak lain. Sampurno menyebut, seorang yang disebut sebagai pengusaha tebu tidak terima, hingga akhirnya diduga menyuruh sejumlah orang untuk melakukan penyerangan.
“Saya dengar tidak terima, lalu menyuruh sekitar 15 orang untuk membunuh saya,” ujarnya.
Ia juga mengingat saat rombongan pelaku datang ke rumahnya menggunakan dua mobil dan langsung melakukan penyerangan dengan membawa senjata tajam.
“Mereka datang bawa senjata tajam, langsung menyerang. Saya berusaha menyelamatkan diri, tapi tetap kena bacok,” tambahnya.
Menepis Isu "Sakti" dan Memilih Memaafkan
Meski mengalami luka, Sampurno mengaku bersyukur masih diberikan keselamatan. Ia juga menepis anggapan yang menyebut dirinya memiliki kesaktian.
“Saya bukan orang sakti, saya manusia biasa. Saya yakin Allah menolong orang yang jujur,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sampurno menyatakan dirinya memilih untuk tidak menyimpan dendam dan ingin menyelesaikan persoalan tersebut secara damai.
“Saya ingin menyelesaikan secara kekeluargaan. Seorang muslim harus bisa memaafkan,” ucapnya.
Ia juga mengajak semua pihak menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran agar konflik tidak berujung pada kekerasan.
“Kalau ada salah paham, sebaiknya dibicarakan baik-baik. Tidak perlu sampai melukai. Kasihan keluarga,” imbuhnya.
Sampurno bahkan menyampaikan permohonan maaf apabila dirinya juga memiliki kesalahan, serta menegaskan tidak akan menyimpan dendam terhadap para pelaku.
“Saya tidak akan dendam. Saya memaafkan. Semoga ke depan semua bisa menjadi lebih baik,” pungkasnya.
Respon Polres Lumajang: Restorative Justice Terbuka
Sementara itu, Kapolres Lumajang, , menyatakan bahwa pihaknya membuka ruang penyelesaian melalui mekanisme restorative justice.
“Memang terkonfirmasi korban ingin menyelesaikan masalah secara kekeluargaan,” ujarnya
Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses hukum tetap berjalan sesuai prosedur, sembari memberi kesempatan apabila kedua belah pihak sepakat menempuh jalur damai.
“Kami membuka pintu untuk upaya penyelesaian hukum di luar peradilan sesuai prosedur yang ada,” tegasnya.(Imam)


FOLLOW THE Onenewsjatim AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Onenewsjatim on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram