Lumajang, (Onenewsjatim) – Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi menyoroti meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di berbagai daerah, termasuk ancaman kekerasan dan pelecehan seksual di ruang digital.
Pria yang akrab disapa Kak Seto itu mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari orang tua hingga tenaga pendidik, untuk menjadi sahabat anak dengan mengedepankan pendekatan kasih sayang dalam mendidik.
“Ya, justru itu. Maka kami melancarkan suatu gerakan nasional, yaitu Gerakan Nasional Saya Sahabat Anak. Kami mulai dari Presiden sahabat anak, menteri sahabat anak,” ujar Kak Seto di GOR Wira Bhakti Lumajang, Jumat (15/5/2026).
Ia menuturkan, gerakan tersebut pernah digaungkan pada era Presiden Joko Widodo dengan melibatkan ratusan anak dari berbagai latar belakang sebagai bentuk kampanye perlindungan anak secara nasional.
Menurutnya, peran keluarga sangat menentukan tumbuh kembang anak. Orang tua diminta tidak hanya mengawasi, namun juga mendampingi anak dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam penggunaan teknologi digital.
“Orang tua harus menjadi sahabat anak. Jadi bukan mengawasi, tetapi mendampingi anak. Orang tua juga harus cakap digital dan cerdas digital,” katanya.
Kak Seto menegaskan, pendekatan keras dalam mendidik justru dapat membuat anak menjauh dari keluarga. Ia meminta orang tua dan guru membangun komunikasi yang hangat agar anak merasa nyaman di rumah maupun di sekolah.
“Kalau anak didampingi dengan senyum dan kasih sayang, jadilah idola anak-anak. Jangan sampai anak-anak lebih mengidolakan orang di luar, tapi membenci orang tuanya karena cara mendidiknya terlalu kasar,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Kak Seto juga mengajak para pendidik untuk mendidik dengan hati dan cinta kasih.
“Intinya saya mengajak para pendidik, baik pendidik informal yaitu keluarga maupun para guru, untuk mendidik dengan hati dan kekuatan cinta,” ungkapnya.
Ia menambahkan, mendidik anak bukan dengan kemarahan ataupun bentakan, melainkan dengan pendekatan persuasif dan penuh empati.
“Semua mohon memposisikan diri sebagai sahabat anak. Jadi mendidik dengan senyuman, kasih sayang, dan demi kepentingan terbaik bagi anak,” tegasnya.
Kak Seto mengakui tantangan terbesar para pendidik maupun orang tua adalah mengendalikan emosi. Karena itu, ia memperkenalkan konsep “Guru Gembira” sebagai metode menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi anak.
“Cara menghadapi anak yang nakal dan bandel adalah senyum. Mesem itu dengan hati yang bersih dan jernih sehingga emosi menjadi positif,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap ancaman kekerasan seksual terhadap anak di ruang digital yang kini semakin mengkhawatirkan.
Sementara itu, data yang dihimpun mencatat sepanjang tahun 2025 terdapat 72 laporan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Lumajang. Dari jumlah tersebut, 19 kasus menimpa perempuan dan 53 kasus terjadi pada anak.
Sedangkan pada awal tahun 2026, tercatat satu kasus kekerasan terhadap perempuan dan tujuh kasus kekerasan terhadap anak yang telah dilaporkan ke Dinsos P3A Lumajang.


FOLLOW THE Onenewsjatim AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Onenewsjatim on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram