Lumajang, (Onenewsjatim) – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Lumajang mencatat sebanyak 79 kasus demam berdarah dengue (DBD) selama Januari hingga April 2026. Dari jumlah tersebut, satu pasien dilaporkan meninggal dunia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Lumajang, Marshall mengatakan, kasus DBD tertinggi terjadi pada Januari 2026 dengan total 34 kasus.
“Kasus DBD dari Januari sampai April 2026 total 79 kasus,” ujar Marshall melalui pesan singkat WhatsApp, Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan, pada Februari jumlah kasus turun menjadi 13 kasus, kemudian kembali turun pada Maret sebanyak sembilan kasus. Namun pada April kasus kembali meningkat menjadi 23 orang.
“Januari 34 kasus, Februari 13 kasus, Maret sembilan kasus dan April 23 kasus,” katanya.
Marshall mengungkapkan, dari 23 kasus yang ditemukan pada April, satu pasien meninggal dunia akibat mengalami syok berat karena DBD.
“Jadi dari 23 kasus bulan April, satu di antaranya meninggal dunia. Benar, kondisinya sampai terjadi syok akibat DBD,” ungkapnya.
Menurutnya, penyakit DBD sulit diprediksi karena dapat berkembang cepat dan menyebabkan kondisi syok yang membahayakan nyawa pasien.
“Tergantung dari kondisi kekebalan pasien dan tingkat virulensi virus DBD-nya,” jelas Marshall.
Kasus DBD di Lumajang menyerang berbagai kelompok usia, mulai balita hingga dewasa. Rinciannya, usia 1-4 tahun satu kasus, usia 5-14 tahun enam kasus, usia 15-44 tahun sebanyak 11 kasus, dan usia di atas 44 tahun lima kasus.
Marshall mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam selama tiga hari atau muncul gejala berat seperti nyeri perut dan muntah.
“Atau belum tiga hari demam tapi disertai tambahan gejala yang berat seperti nyeri perut muntah, segera periksa ke fasyankes tanpa harus menunggu tiga hari,” bebernya.
Ia menambahkan, gejala DBD umumnya berupa demam yang disertai nyeri otot dan sendi, bahkan dapat memicu perdarahan ringan seperti mimisan dan gusi berdarah.
Sementara malaria memiliki pola demam periodik dan biasanya berkaitan dengan riwayat aktivitas di wilayah endemis malaria seperti Papua dan Kalimantan.
“Tergantung jenis malarianya. Dan malaria lebih mudah diketahui apabila pasien ada riwayat pernah berada atau bekerja di daerah endemis malaria,” pungkasnya. (Imam)


FOLLOW THE Onenewsjatim AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Onenewsjatim on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram