Lumajang, (Onenewsjatim) – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Tarbiyatul Mubtadiin, Desa Labruk Lor, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mendapat sejumlah catatan dari pihak sekolah dan siswa.
Evaluasi terutama menyangkut variasi menu, cara pengolahan makanan, hingga cita rasa nasi yang dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan selera anak-anak.
Kepala Tata Usaha (TU) MIS Tarbiyatul Mubtadiin, Siti Mufarida, mengatakan, penyaluran MBG di sekolahnya selama ini berjalan sesuai jadwal dan prosedur yang berlaku.
Makanan biasanya tiba sekitar pukul 07.00 WIB. Waktu pengiriman juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, terutama ketika ada kegiatan di luar lingkungan madrasah.
"Kalau untuk pelaksanaannya sudah sesuai SOP dari SPPG. Datang pagi dan tidak terlambat. Bahkan, kalau sekolah ada kegiatan di luar, pengirimannya bisa disesuaikan dengan permintaan," kata Siti Mufarida.
Meski pelaksanaan distribusi dinilai berjalan baik, perempuan yang akrab disapa Farid itu menilai variasi menu masih perlu mendapat perhatian.
Menurut dia, menu yang disajikan selama ini cenderung berulang, terutama olahan ayam dan telur. Sementara itu, menu ikan maupun sumber protein lainnya dinilai masih jarang disajikan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat siswa bosan dan kurang tertarik menghabiskan makanan yang diberikan.
"Selama ini menunya ayam, telur, kemudian ayam dan telur lagi. Daging atau ikan jarang. Pengolahan ayam juga kurang bervariasi, biasanya hanya digoreng atau dibumbui kecap," ujarnya.
Farid berharap penyedia makanan dapat mengembangkan variasi menu, baik dari segi bahan maupun cara pengolahan. Dengan demikian, makanan yang diberikan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menarik bagi anak-anak.
Menu Porsi Kecil Perlu Disesuaikan
MIS Tarbiyatul Mubtadiin memiliki sekitar 250 siswa. Seluruh siswa tersebut mendapatkan jatah MBG dengan pembagian porsi besar dan porsi kecil sesuai kelompok penerima.
Dalam setiap penyaluran, jumlah ompreng yang diterima sekolah mencapai lebih dari 200 buah.
Farid mengatakan, evaluasi juga diperlukan untuk menu bagi siswa yang mendapatkan porsi kecil. Menurut dia, makanan untuk anak-anak usia lebih muda sebaiknya mempertimbangkan kemampuan dan selera mereka.
Ia mencontohkan menu telur balado dan tahu balado yang kurang diminati sebagian siswa kelas bawah karena cita rasanya cenderung pedas.
"Anak-anak kelas bawah banyak yang kurang suka makanan yang berbau cabai. Jadi, menu untuk porsi kecil perlu disesuaikan dengan usia mereka," jelasnya.
Selain lauk, variasi sayuran juga menjadi perhatian. Farid berharap penyedia makanan dapat menghadirkan olahan sayur yang lebih beragam sehingga siswa tertarik untuk menyantapnya.
Baginya, kesesuaian menu dengan selera anak merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam evaluasi program MBG di sekolah.
Siswa Keluhkan Rasa Makanan dan Tekstur Nasi
Keluhan serupa disampaikan Amabel Sakhi Sonia, siswa kelas VI MIS Tarbiyatul Mubtadiin. Ia mengaku tidak selalu cocok dengan makanan yang diterimanya melalui program MBG.
Menurut Amabel, cita rasa makanan yang disajikan terkadang terasa hambar. Ia menyebut beberapa menu, termasuk ikan patin, lele, dan telur puyuh, belum selalu sesuai dengan seleranya.
"Kadang menunya enak, kadang tidak enak. Ikan patin, lele, sama telur puyuh terkadang tidak ada rasanya," kata Amabel.
Selain lauk, Amabel juga menyoroti tekstur nasi yang dinilainya terkadang terlalu keras. Kondisi tersebut membuat nasi terasa kurang nyaman saat dikunyah dan ditelan.
Ia berharap kualitas makanan yang disajikan dapat diperbaiki sehingga lebih sesuai dengan selera siswa.
"Harapannya MBG lebih enak dan menunya cocok dengan lidah anak-anak. Nas inya juga semoga lebih pulen, karena kadang terasa keras dan ada bagian yang menggumpal," tuturnya.
Media ini berupaya meminta konfirmasi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Oda Masa Dipan Utama di Desa Labruk Lor, Kecamatan Lumajang, yang memasok makanan untuk sekolah tersebut.
Namun, petugas yang ditemui di lokasi belum bersedia memberikan keterangan karena kepala dapur tidak berada di tempat.
"Enggak usah, nunggu kepala dapurnya saja," Pungkasnya petugas tersebut.


FOLLOW THE Onenewsjatim AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Onenewsjatim on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram