-->

23/05/2026

264 Kasus Jantung Bawaan Anak di Lumajang, Belum Ada Dokter Spesialis

264 Kasus Jantung Bawaan Anak di Lumajang, Belum Ada Dokter Spesialis


Lumajang, (Onenewsjatim) –
Kebutuhan layanan kesehatan jantung anak di Kabupaten Lumajang masih menjadi pekerjaan rumah besar. 

Hingga kini, seluruh rumah sakit di wilayah tersebut belum memiliki dokter spesialis jantung anak, sehingga banyak pasien harus dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan penanganan medis.

Kondisi itu diungkapkan Bupati Lumajang saat menghadiri kegiatan bakti sosial layanan jantung anak yang digelar Yayasan Adventure Makelar Surga (AMS), Sabtu (23/5/2026).

Menurut perempuan yang akrab disapa Bunda Indah itu, keterbatasan tenaga dokter spesialis membuat pemerintah daerah harus mencari langkah strategis agar pelayanan kesehatan anak, khususnya penderita kelainan jantung bawaan, bisa lebih mudah diakses masyarakat.

“Mahasiswa-mahasiswa yang sedang menjalani PPDS nanti akan kami upayakan bisa bekerja sama dengan RSUD dr Haryoto Lumajang, terutama untuk spesialis yang saat ini belum kami miliki, khususnya dokter spesialis jantung anak,” ujar Bunda Indah.

Pemkab Lumajang, lanjutnya, kini mulai menjajaki kerja sama dengan Universitas Airlangga sebagai salah satu institusi pendidikan kedokteran yang memiliki program pendidikan dokter spesialis.

Ia menegaskan, apabila kerja sama tersebut telah terealisasi, pemerintah daerah siap melengkapi kebutuhan sarana penunjang pelayanan medis.

“Kalau kerja sama ini sudah clear, alat-alat pendukungnya juga akan kami siapkan dan lengkapi,” katanya.

Selama ini, pasien anak penderita jantung bawaan asal Lumajang banyak menjalani pengobatan di Surabaya hingga Jakarta. Untuk membantu keluarga pasien, Pemkab Lumajang telah menyediakan rumah singgah di Surabaya yang dapat dimanfaatkan warga selama proses pengobatan berlangsung.

“Sekarang sudah cukup banyak masyarakat yang memanfaatkan rumah singgah itu. Bahkan kami juga sedang mencari lokasi rumah singgah di Malang yang dekat dengan RSSA,” jelasnya.

Bunda Indah menilai, penanganan kasus jantung bawaan pada anak tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah semata. Dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga sosial dan rumah sakit.

“Saya pikir pemerintah tidak bisa bekerja sendiri karena jumlahnya cukup banyak. Jadi memang perlu kolaborasi untuk membantu anak-anak yang terindikasi kelainan jantung agar bisa segera mendapat penanganan,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan AMS Lumajang mengungkapkan, saat ini pihaknya telah mendata sedikitnya 264 anak penderita kelainan jantung bawaan di Lumajang. Dari jumlah itu, terdapat 41 kasus baru yang baru teridentifikasi.

“Ada 264 anak yang sudah terdata di kami. Sedangkan kasus baru ada 41 anak. Data itu kami peroleh dari rekomendasi dokter anak, kemudian kami tindak lanjuti dan validasi,” ungkap dr Niken.

Ia menjelaskan, proses validasi dilakukan bersama tim medis dari RS Siti Khodijah Sidoarjo yang aktif melakukan penjangkauan pemeriksaan pasien dari daerah.

Menurutnya, hampir setiap minggu pihaknya harus mendampingi pasien asal Lumajang ke rumah sakit tersebut untuk memastikan kondisi kesehatan anak-anak yang diduga mengalami kelainan jantung bawaan.

“Sekarang RS Siti Khodijah sudah jemput bola, jadi sangat membantu kami. Dalam satu kali keberangkatan biasanya ada tiga pasien dari Lumajang yang menjalani pemeriksaan,” paparnya.

Meski demikian, dr Niken menilai jumlah penderita sebenarnya diperkirakan lebih banyak dari data yang ada saat ini. Sebab, masih ada orang tua pasien yang memilih menolak pengobatan karena takut anaknya menjalani operasi.

“Sebetulnya masih banyak yang belum terdata. Ada orang tua yang takut anaknya dioperasi sehingga memilih tidak melanjutkan pengobatan,” pungkasnya.(Imam)

Baca Artikel Terkait Lainnya

Baca juga Artikel Lainnya

© Copyright 2024 Onenewsjatim | All Right Reserved